December 07, 2016

Kembali Menyuburkan Iman

iman

Sebagaimana tanaman, iman membutuhkan perawantan untuk menjaga kesuburan,. Jika tanaman membutuhkan air dan pupuk untuk kesuburannya, maka iman pun demikian, membutuhkan siraman dan gizi keimanan. Jika tidak, ia bisa layu, bahkan mati

Apalagi pada zaman sekarang ini, dimana benalu-benalu keimanan, demikan banyak bertebaran di sekeliling kita. Ada tontonan-tontonan perusak iman, ada lingkungan buruk, ada perusak pemikiran dan berbagai macam benalu yang aktif menggerogoti keimanan. Pada zaman dahulu saja pernah terjadi kerusakan behkan kemur tadan karena larut dalam benalu iman.

Inilah ubaidillah bin jahsyi. Pemuda Quraisy ini ketika mendengar seruan keimanan dari rosul mulia, bersegera menjawab seruan beliau bersama istrinya Romlah RadiyaAllahu ‘anha. Padahal ayah Romlah, Abu Sufyan, saat itu menjadi salah satu pembesar Quraisy penghalang dakwah islam.

Sesampai disana, kaum muslimin dibawah pimpinan ja’far bin Abi Thalib mendapat perlindungan raja Najasyi. Tetapi lingkungan Ethopia adalah lingkungan Nashroni. Ubaidillah bin Jahsyi yang paling pandai bergaul, banyak berinteraksi dengan kaum Nashroni Ethopia. Sedikit demi sedikit lingkungannya mempengaruhinya untuk meniggalkan keimanannya. Ia diberi kesenagan dengan kebolehan meminum khomer dan sebagainya. Tanpa terasa sampai puncaknya Ubaidillah memilih kemurtadan mengikuti aqidah Nashroni yang sesat dari pada iman. Ia menjadi korban sebuah lingkungan yang buruk.

Terlebih lagi zaman sekarang. Seringkali kita mendengar begitu banyak orang-orang  islam yang mudah berpindah agama hanya karena iming-iming  dunia yang nilainya tidak seberapa. Kenyataannya tersebut tidak terlepas dari kelalaian mereka sendiri yang tidak mau member nutrisi bagi keimanannya. Untuk itu sudah seharusnya kita memberi perhatian serius akan kesehatan iman kita dengan memberinya makanan-makanan keimanan agar iman tetap kuat membuahkan kebaikan dunia maupun akhirat.

Adapun diantara nutrisi-nutrisi iman yang bisa menguatkan kapasitas keimanan  kita adalah sebagai berikut:

1.  Merasakan Keagungan Dan Karunia Allah

Seorang muslim dituntut bisa mengaktifkan pemikiran agar bisa mengambil pelajaran  dari apa saja yang dihadapinya, kesimpulan akhirnya adalah bahwa hidupnya selalu berenang dalam karunia nikmat dan kasih sayang-Nya. Saat ia sedang mandi hendaknya ia berfikir apa jadinya hidup ini jika Allah tidak berikan Air kepadanya? Ketika ia melihat matahari, terbesitlah dibenaknya betapa besarnya karunia matahari, yang dengannya tumbuhan bisa memproduksi makanan untuknya, pakaian bisa kering karenanya, aktifitas pun menjadi lebih nyaman. Kita juga berfikir akan keagungan Allah yang telah menciptakan malam, untuk beristirahat, setelah seharian penuh berkerja, dan lain sebagainya.

Maha benar Allah dengan firmanNya:

إٍنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتِ لِأوْلِى الألْبَابِ 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Qs: Ali Imron 191)

Dengan mengingat besarnya karunia Allah, nikmatNya, ataupun anugrah-anugrahnya maka kita akan tenggelam dalam lautan kebaikan, lautan itu memberikan banyak nutrisi kepada hati kita.

2. Membaca Dan Mentadaburi Al Qur’an

Al Allamah As-Sa’di menulis, “ seorang yang mentadaburi Al –Qur’an senantiasa dapat mengambil faedah dari ilmu dan pengetahuan yang ditebar oleh Al-Qur’an  untuk menambah imannya. Allah telah mengingatkan kita dalam penggalan firmannya:

“ Dan apabila dibacakan Ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal.” (QS: Al Anfal 2)

Al Qur’an merupakan nutrisi hati yang sangat mujarab untuk menguatkan iman maupun hati yang sakit. Allah menjamin itu dengan kalamNya:

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS: Yunus 57)

3. Banyak Berdzikir Dan Melazimi Majelisnya

tak ayal, dzikir merupakan amalan utama untuk menyuburkan, menjaga dan meningkatkan stamina iman. Karena dengannya akan selalu terhubung dengan Allah, merasa dekat denganNya, serta mengawas dan melindungiNya. Oleh karenanya Rasulullah menghasung agar lidah kita senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah.

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada nabi:

يَـا رَسُولُ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِى بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“wahai utusan Allah, sesungguhnya syari’at islam telah banyak macamnya, maka beritahukanlah aku suatu amal yang akan selalu saya pegang teguh. Beliau bersabda: “Hendaknya lisanmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR: Tirmidzi)

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (Al-Ahzab 41-43)

4. Menuntut Ilmu

Semakin seseorang bertambah ilmunya maka imannya pun akan semakin menguat. Karena dengan ilmu seseorang akan mengetahui keagungan Allah, mengtahui hakikat kehidupan,  mengetahui jannah dan neraka, sehingga rasa takut kepada Allah akan semakin menguat. Allah Berfirman

“sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hambanya adalah orang yang berilmu.” (QS: Al Fathir 28)

5. Mengenal Dan Menelaah Sejarah Nabi Serta Orang-Orang Yang Beriman.

Mengenal dan menalaah sejarah nabi maupun orang-orang yang beriman merupakan salah satu hal yang cukup efektif menyegar dan menyuburkan iman, dengan mengenal sosok mereka setidaknya kita dapat mengambil satu langkah untuk meneladani mereka, mengenal keperibadian nabi dan akhlaqnya, mengenal keteguhan para sahabat disaat iman mereka diuji dan disiksa, mengenal betapa kuatnya para salafush-shalih dalam mengamalkan kebaikan dan lain sebagainya, semua itu sangat efektif memberi pengaruh yang dahsyat dalam iman kita.

Saat kita membaca sejarah saat itu kita akan terbawa, tenggelam dalam kehidupan mereka, kemudian berkaca dalam hati seolah olah ingin menjadi makhluq yang terpuji seperti mereka para shalihin…

Iman kita akan tertantang saat membaca bagaimana derita saat Khobaib bin Art disiksa hingga punggungnya hangus terbakar. Bilal bin rabbah ditindih batu besar di padang sahara, sementara lidahnya tak dapat berucap apapun selain kata tauhid. “ahad… ahad… ahad…”

6. memperbanyak Amalan Sunnah (Nafilah) setelah menyempurnakan yang wajib.

Allah Ta’ala telah menyatakan dalam hadits Qudsi:

“tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada sesuatu yang aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku  akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan Nafilah sehingga Aku mencintainya.” (HR Bukhari)

Nafilah adalah segala bentuk ketaatan selain yang fardhu. Nafilah adalah amalan yang diperintahkan oleh syari’at namun tidak diwajibkan. Sebagian ulama’ menanyakan “bagaimana bisa amalan nafilah menjadi factor penyampai ke mahabbatullah, dan bukannya amalan fardhu?” sebagian ulama menjawab’ “ umumnya seorang hamba mengerjakan amalan fardhu karena takut kepada hukuman dan mengharapkan pahala. Sedangkan amalan nafilah tidak ada hukuman jika ditinggalkan. Karena seseorang mengerjakannya dengan ikhlas, dengan niat supaya dicintai Allah dan mendekatkan diri kepadaNya. Lantaran keikhlasan yang ada pada amalan nafilah inilah dia menjadi factor penyampai ke Mahabbatullah, bukan amalan fardhu.”

Semakin banyak seseorang mengerjakan amalan nafilah semakin banyak pula ia bergelimang pahala dan kebaikan, dengan demikian ia telah menjaga iman dengan kebaikan-kebaikan tersebut.

7. Hidup Dalam Lingkungan Orang-Or ang shalih

Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam mempengaruhi iman seseorang. Berapa banyak orang yang awalnya baik namun kemudian rusak lantaran lingkungannya rusak, bergaul dengan orang-orang yang rusak, begitupun cukup banyak orang yang dahulu rusak imannya lantas berubah menjadi baik lantaran bergumul dalam lingkungan yang baik.

Suatu waktu Rasulullah mengingatkan kita dengan sabdanya:

”seseorang akan bersama agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat dengan siapa seseorang memilih teman dekatnya.” (HR Tirmidzi)

 

8. Banyak mengingat kematian.

Mengingat kematian, hidup setelahnya, kiamat, dan jannah serta neraka akan menjadikan hati kita lembut, bertambah takut kepada Allah dan semakin bersemangat untuk beramal Shalih. Oleh karenanya Rasulullah menghasung kita untuk banyak mengingat semua itu. Beliau bersabda:

“dahulu saya melarang kalian untuk berziarah kekuburan. Ingatlah, sekarang berziarahlah sesungguhnya ia akan melembutkan hati, membuat mata menangis, dan mengingatkan akhirat.

(HR. Al Hakim)

Do’a Memohon keteguhan

Doa adalah hal yang paling utama setelah ikhtiar, namun berusaha untuk memberi stamina pada iman, agar nutrisinya tercukupi saja tak cukup, karena hakikat hati itu terbolak balik. Oleh karenanya tak heran bila, Ummu Salamah, istri Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam, ketika ditanya do’a apa yang paling banyak di baca oleh Rasulullah, ia mengabarkan  bahwa do’a yang sering di baca oleh Rasulullah adalah, “Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati ini diatas agama-Mu” (HR. Tirmidzi)

Wallahu A’lam Bish Showab

Disadur oleh Naffadz Zain dari buku Kiat Menyuburkan Iman

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *