Serba Serbi Ibadah Qurban Bag IV [Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Hewan Qurban]

October 8, 2012  //  Fiqhiyah  //  No comments

sapii

JENIS HEWAN

Hewan yang diperbolehkan untuk qurban adalah domba dan yang sejenis, unta dan yang sejenis, serta sapi dan yang sejenis baik jantan maupun betina, karena tidak ada penjelasan dalam al quran maupun as-sunnah yang mengkhususkan jenis kelamin tertentu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman;

“Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah rizkikan kepada mereka berupa binatang ternak….” (QS. Al Hajj : 34)

Kata “Binatang ternak” (bahimatul an’am) hanya mencakup unta, sapi, dan kambing. Diperbolehkan pula berkurban dengan kerbau karena sejenis dengan sapi dan termasuk binatang ternak. Begitu pula dengan kibas, biri-biri, domba, dan lainnya yang sejenis dan termasuk binatang yang diternak.

UMUR

Umur hewan yang akan diqurbankan haruslah memenuhi syarat, yaitu :

  • Kambing berumur satu tahun masuk tahun kedua, jika setelah berusaha mencari tetapi sulit mendapatkan yang berumur satu tahun maka diperbolehkan kambing berumur enam bulan keatas. Keringanan ini khusus bagi kambing.
  • Sapi atau kerbau berumur dua tahun masuk tahun ketiga.
  • Unta berumur lima tahun masuk tahun keempat.
  • Semua ini berdasarkan hadits Nabi Shollallahu alaihi wasallam:

“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali yang sudah berumur (musinnah), jika kalian sulit mendapatkannya maka sembelihlah (berkurbanlah) kambing yang muda (judz’ah minadl dlo’n)!” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasai, dan Ibnu Majah, Shohih)

Musinnah adalah fase kedua dari sesuatu, sedangkan judz’ah adalah kambing yang masih muda berumur enam bulan keatas.

Kondisi

Kondisi hewan yang akan dikurbankan haruslah memenuhi ketentuan syara’ yaitu harus sehat, nagus dan mulus, dan tidak boleh memiliki cacat berikut ;

  1. Buta sebelah yang jelas butanya. Jika bola mata yang hitam belum tertutup sepenuhnya oleh yang berwarna putih dan kemungkinan masih bias melihat meski tidak sempurna maka diperbolehkan menjadikannya hewan qurban,
  2. Dalam kondisi sakit yang jelas sakitnya, jika sakitnya ringan maka diperbolehkan menjadikannya hewan qurban,
  3. Pincang kakinya dan jelas kepincangannya.
  4. Betul-betul kurus.
  5. Keempat cacat diatas tidak boleh ada dalam hewan qurban, jika terdapat salah satu maka tidak sah menjadikannya hewan qurban. Berdasarkan hadits ;

“Empat hal yang tidak boleh ada dalam hewan qurban ; buta sebelah yang jelas butanya, yang sakit dan nyata sakitnya, kakinya pincang dan jelas pincangnya serta kurus yang tidak memiliki lemak” (HR. Ahmad, An Nasai, dan Ibnu Majah, Shohih)

Adapula cacat yang lain yang dihukumi makruh ada dalam hewan qurban, yaitu ;

  1. Terpotong telinganya, jumhur berpendapat tidak diperbolehkannya hewan yang terpotong telinganya dijadikan hewan qurban, tetapi dalil yang digunakan adalah perkataan ali, “Rasulullah memerintahkan kami agar memuliakan mata dan telinga” (HR. An Nasai, Ahmad, At Tirmdzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Hasan). Tapi Rasulullah hanya membatasi empat cacat diatas saja. Karenanya terpotong telinga menjadi makruh tetapi lebih diutamakan menghindarinya dan memilih yang sempurna dan tidak cacat.
  2. Tanduknya pecah atau terpotong, jumhur ulama membolehkan menjadikannya hewan qurban tetapi imam malik memakruhkannya jika sampai berdarah.
  3. Cacat lainnya yang tidak ada riwayat yang menyebutkan secara khusus tetapi dapat mengurangi kesempurnaan hewan, seperti tidak mempunyai gigi, terpotong hidung dan lainnya. Jika sampai berlebihan maka hukumnya menjadi tidak sah.

Wallahu a’lam

Leave a Comment

comm comm comm