Allah Selalu Menguji Orang Beriman

July 24, 2012  //  Hikmah, Uncategorized  //  No comments

layu_by_xbebyx

Ibnu Mas’ud Radiyallahu anhu berkata, “Dosa terbesar di antara dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah dan merasa putus asa dan harapan terhadap rahmat Allah. ”[H.R Abdurrazzaq dan Ath-Thabrani]

Pernahkah kita di salah satu fase kehidupan kita merasa sedih, galau dan gundah gulana yang mencemaskan? Pernahkah ‘keributan’ itu semua mendorong kita untuk mengakhiri hidup kita?

Sebaliknya, pernahkah kita di suatu waktu begitu gembira dengan keadaan diri sendiri, mendapatkan kenikmatan yang berlimpah, sehingga lupa lagi dengan rambu-rambu agama? Seolah kita lepas dari penagwasan. Atau kita menyangka bahwa pelanggaran yang ada tak menghilangkan kenikmatan yang telah dirasakan?

Dua keadaan di atas adalah keadaan mayoritas umat manusia, ketika kesusahan menimpa mereka maka mereka berkeluh kesah.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” [Q.S Al Ma’arij 19]

Begitu juga ketika sedang bahagia, lupa nikmatlah yang akan menimpa kita. Janji-janji dalam doa kita yang akan menginfaqkan separuh rizqi terlupakan begitu saja. Bagi orang yang mengaku sebagai orang yang beriman tentu selayaknya tidak merasa berputus asa.

Setiap manusia pasti akan mengalami cobaan dari Allah Ta’ala, bagi seorang yang beriman cobaan itu tidak seberapa karena ia tau akan mendapat balasan surge pada hari esok kelak. Allah berfirman: “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir. ” [QS. Yusuf: 87]

Berkata Al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas,  “Ayat ini menunjukkan bahwa berputus asa itu termasuk dosa besar.”

Putus Asa Adalah Godaan Setan

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-A’raaf: 200)

Putus asa adalah godaan setan. Setan mencoba memengaruhi orang-orang beriman dengan membuat mereka bingung dan kemudian menjerumuskan mereka untuk berbuat kesalahan yang lebih serius. Tujuannya adalah agar orang-orang beriman tidak merasa yakin dengan keimanan dan keikhlasan mereka, membuat mereka merasa “tertipu”. Jika seseorang jatuh ke dalam perangkap ini, ia akan kehilangan keyakinan dan akibatnya akan mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan lebih besar dari kesalahan sebelumnya. Keimanan mereka akan nampak pada saat ujian menempa mereka. Kemanakah mereka akan mengadu ketika nikmat kekayaan mereka dicabut apakah Allah atau dukun?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS.Al‘Ankabut :2-3]

Tidak ada cara lain dalam menghadapi cobaan kecuali bersabar, jika kita sabar, itu akan menambah pahala kita dan mengurangi dosa kita serta menjadikan kita termasuk dari hambanya yang bertaqwa dan surga adalah imbalannya.

Wallahu a’alam

 

Leave a Comment

comm comm comm