Hidup Di Bawah Naungan Tauhid

  KHUTBAH PERTAMA الحمد لله الذي جعل جنة الفردوس لعباده المؤمنين نزلا، ويسرهم للأعمال الصالحة الموصلة إليها فلم يتخذوا سواها شغلا، وسهل لهم طرقها فسلكوا السبل الموصلة إليها ذللا، خلقها لهم قبل أن يخلقهم، وحفها …

 

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الذي جعل جنة الفردوس لعباده المؤمنين نزلا، ويسرهم للأعمال الصالحة الموصلة إليها فلم يتخذوا سواها شغلا، وسهل لهم طرقها فسلكوا السبل الموصلة إليها ذللا، خلقها لهم قبل أن يخلقهم، وحفها بالمكاره وأخرجهم إلى دار الإمتحان ليبلوهم أيهم أحسن عملا، وجعل ميعاد دخولها يوم القدوم عليه، وضرب مدة الحياة الفانية دونه أجلا. وبشرهم بأصناف النعيم التي أعد فيها، وكمل لهم البشرى بكونهم خالدين فيها.

أحمده سبحانه بعث الرسل مبشرين ومنذرين، وعمر دارين فهذه من أجاب الداعي، ولم يبغ سوى ربه الكريم بدلا، وتلك لمن لم يجب دعوته، ولم يرفع بها رأسا، ولم يعلق بها عملا

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة من لا مطمع له في الفوز بالجنة والنجاة من النار إلا بعفوه ومغفرته

وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى الله وإلى جنته. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه السالكين على أثره

عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، قال تعالى

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وفي رواية أبى داود وكل ضلالة فى النار

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada kita semua, nikmat iman dan Islam, nikmat kesehatan, juga nikmat kesempatan sehingga kita bisa bertemu dan melaksanakan perintah ibadah shalat Jum’at pada siang hari ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya dan umatnya yang istiqomah menjalankan sunnah-sunnahnya.

Tidak lupa kami sebagai khatib berpesan kepada diri kami pribadi dan jamaah shalat Jum’at semuanya untuk bersungguh-sungguh dalam meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala, karena ketakwaan itulah yang akan menjadi sebaik-baik bekal bagi kita dalam menghadap Allah subhanahu wata’ala.

Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah, kita semua tentu menginginkan memiliki kehidupan yang baik, aman, sejahtera, dan seluruh kebutuhan kita tercukupi. Namun ternyata masih banyak manusia yang merasa takut, khawatir, was-was jika kehidupannya tidak ada yang menjamin. Ada juga manusia yang mendapat jaminan tapi tetap merasa takut dan khawatir karena ia harus mengorbankan sebagian kebahagiaannya, karena ia memiliki harapan pada lebih dari satu pihak yang ia takuti. Jika satu pihak disenangkan maka pihak yang lain akan marah padanya, jika ia meminta jaminan kepada satu pihak maka pihak yang lain akan mengancamnya. Inilah yang terjadi pada manusia yang memiliki Rab lebih dari satu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman menggambarkan keadaan tersebut :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az Zumar : 29)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumah rahimakumullah, akidah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang kita yakini mengatakan bahwa kehidupan yang baik, aman dan sejahtera yang kita inginkan hanya bisa kita dapatkan jika kita hanya memiliki satu Rab saja, yaitu Allah, Rab Yang Maha Sempurna. Teori hanya satu Rab inilah yang disebut dengan tauhid, dan tauhid ini harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mengesakan Allah dalam beberapa hal berikut ini:

  1. Rububiyyah

Mentauhidkan Allah secara rububiyyah artinya adalah kita mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, Dialah sendiri yang menciptakan, Menguasai, dan Mengatur alam semesta.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar : 62)

Selain itu barang siapa yang mengesakan Allah dalam menciptakan mahluk niscaya ia pun akan mengesakan-Nya dalam hal memberi rezeki pada mahluk-Nya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul mahfuz).” (QS. Hud : 6)

Tauhid rububiyyah ini tidak ada satu kelompok pun dari manusia yang mengingkarinya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An Naml : 14)

Maka Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya “Madarijus salikin” menjelaskan terkait tauhid rububiyah ini, beliau berkata: “Sesungguhnya tauhid rububiyyah memiliki konsekwensi berupa perintah dan larangan kepada hamba, membalas kebaikan hamba dengan kebaikan-Nya dan membalas kejahatan mereka dengan hukuman-Nya.”

  1. Uluhiyyah

Ma’asyiral muslimin jamaah jumah rahimakumullah, sedangkan tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah subhanahu wata’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba yang mereka usahakan dengan niat taqarrub, seperti doa, nadzar, menyembelih kurban, raja’, khauf, tawakkal, cinta, takut, dan bertaubat. Pengertian mudahnya adalah tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid ibadah. Sebutan ini diambil berdasarkan bahwa ubudiyyah adalah sifat bagi hamba  yang wajib baginya menyembah Allah subhanahu wata’ala dengan ikhlas.

Tauhid uluhiyyah adalah inti dakwah para rasul sejak rasul pertama sampai terakhir, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al Anbiya’: 25)

Dengan demikian, ketika seseorang telah mengikrarkan “Laa Ilaaha illallah” dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada ilah, tidak ada tuhan selain Allah, maknanya tidak ada tuhan selain Allah yang dicintai, tidak ada tuhan yang dituju selain Allah, tidak ada raja yang ditaati selain Allah, tidak ada tuhan yang disembah selain Allah subhanahu wata’ala. Maka jika demikian yag diyakini oleh manusia, pada saat itulah ia akan merasakan “kehidupan yang baik” yang Allah janjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

 

  1. Asma’ wa sifat

Ma’asyiral muslimin jamaah jumah rahimakumullah, tauhid asma’ wa sifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah subhanahu wata’ala dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang tercantum di dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menurut apa yang layak bagi Allah tanpa takwil, ta’thil, takyif dan tamtsil.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As Syura: 11)

Ma’asyiral muslimin jamaah jumah rahimakumullah, penamaan dan pensifatan Allah subhanahu wata’ala tidak melampaui batasan Al Quran dan Sunnah karena tidak ada satupun yang lebih mengenal Allah kecuali Allah subhanahu wata’ala sendiri, dan tidak ada seorang pun setelah Allah subhanahu wata’ala yang lebih mengenal Allah daripada Rasul-Nya. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk menolak nama-nama Allah subhanahu wata’ala dan sifat-sifat-Nya, atau memberi nama dan sifat kepada Allah dengan selain nama dan sifat yang Allah dan Rasulullah berikan untuk diri-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللهم صلى على محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

إن الله وملائكته يصلون على النبي ياأيها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا لنكوننا من الخاسرين رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

ربنا ءاتنا من لدنك رحمة وهيء لنا من أمرنا رشدا

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

 

Khatib: Ust. Adib

Leave a Comment