Menghadapi kematian

8 minutes reading
Thursday, 3 Feb 2022 14:05 0 118 admin

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ به من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم على نبينا وحبيبنا محمد وعلى آله وأصحابه وكل من نهج بمنهجه إلى يوم الدين، أما بعد

فيأيها المسلمون أوصيكم ونفسي بتقوى الله حيث قال تعالى

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran : 102)

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’ah rahimakumullah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala melalui ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya takwa adalah sebaik-baik bekal bagi seorang hamba, terlebih ketika menghadap Allah subhanahu wata’ala.

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’ah yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, marilah sejenak sebelum kita menunaikan kewajiban kita sebagai seorang laki-laki yang beriman untuk mengerjakan dua rakaat shalat jum’at, mari kita renungi sebentar tentang bagaimana kehidupan seorang hamba disaat menghadapi kematian, sebagaimana yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya yang sangat panjang, beliau menceritakan tentang keadaan seorang hamba yang beriman dan seorang hamba yang fajir ketika menghadapi kematian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dengan sangat detail dan sempurna tentang kematian orang yang beriman sejak dari masa kematiannya hingga di alam barzakh. Ketika seorang yang beriman kendak dicabut nyawanya turunlah para malaikat yang berwajah putih berpakaian bersih dan beraroma wangi datang dengan membawa kain kafan, kain kafan itu dibawa langsung oleh para malaikat dari dalam surga, kain kafan yang berwarna putih bersih, beraroma wangi semerbak, setiap yang dilewatinya pasti mencium aroma wanginya. Para malaikat itu duduk di sisi orang beriman yang hendak dicabut nyawanya itu, mereka berbaris sepanjang mata memandang, tidak lama kemudian datanglah malaikat maut yang duduk di arah kepalanya, lantas malaikat maut itu berkata kepada orang beriman yang hendak dicabut nyawanya itu:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Wahai jiwa yang tenang, wahai ruh yang baik” (QS. Al Fajr: 27)

اخرجي من الجسد الطيب

Keluarlah dari badan yang baik” keluarlah menuju ampunan dari Allah subhanahu wata’ala dan ridho-Nya! Seketika itu ruh orang yang beriman keluar dari jasadnya dengan begitu lembut sebagaimana mengalirnya air dengan lembut dari wadahnya. Lantas ruh itu diambil oleh para malaikat lalu segera diletakkan di kain kafan yang diambil dari surga, kain kafan yang bersih dan beraroma wangi yang aromanya lebih wangi dari minyak misik yang paling wangi dan berharga di dunia ini.

Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut ke langit melewati kumpulan malaikat, setiap malaikat yang dilewati pasti bertanya; “Ruh siapakah ini?” malaikat yang membawanya pun menjawab; “Ini adalah ruhnya fulan bin fulan” dengan menyebutkan panggilan yang paling indah untuk ruh tersebut. Sesampainya di akhir langit dunia mereka meminta ijin kepada Allah subhanahu wata’ala untuk ruh tersebut dan mereka pun diijinkan.

Setiap langit yang mereka lewati dengan membawa ruh orang beriman itu pasti membuka pintunya, hingga sesampainya di langit ketujuh, Allah subhanahu wata’ala berfirman; “Tuliskanlah kitab hamba-Ku ini dan tempatkanlah ia dalam ‘illiyyin!” kemudian dikembalikanlah ruh itu ke bumi dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku telah menciptakannya di sana dan Aku akan kembalikan ia ke sana, serta dari sana pula ia akan Aku keluarkan dan dikembalikan kepada-Ku.” kemudian ruh orang beriman itu dikembalikan lagi ke jasadnya, ketika jasad itu sudah berada di alam barzakh tiba-tiba datanglah dua malaikat yang datang dengan lembut lantas mendudukkannya dan bertanya kepadanya;

من ربك؟ وما دينك؟ وما كتابك؟

Dengan mudah orang beriman ini menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh kedua malaikat tadi, kemudian kedua malaikat bertanya lagi kepada orang beriman ini; “Siapakah laki-laki yang dulu pernah diutus di kalangan kalian?” orang beriman menjawab; “Ia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “ ia menjawab dengan mudahnya. Kedua malaikat itu bertanya lagi; “Apakah ilmumu?” orang beriman menjawab; “Saya membaca kitabullah lalu saya membenarkannya dan saya menyerukan apa yang ada di dalam kitabullah itu.”

Setelah itu terdengarlah suara dari penyeru yang berasal dari langit yang menyerukan; “Hamba-Ku ini benar, berilah ia tempat tidur dari surga, pakaian dari surga, dan bukakan untuknya pintu menuju surga.” Lantas didatangkanlah kepadanya kebaikan-kebaikan dan kesenangan-kesenangan yang ada di dalam surga dan kuburnya pun diluaskan sepanjang mata memandang.

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’ah yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, dalam keadaan itu tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan beraroma wangi. Orang beriman yang berada di alam barzakh itu pun bertanya kepada laki-laki tersebut; “Siapakah kamu? Kamu datang dengan wajah yang menyejukkan dan membawa kabar gembira” lantas laki-laki itu pun menjawab; “Aku adalah amalmu yang telah kamu lakukan di dunia, aku adalah amal baikmu, aku adalah amal sedekahmu, akau adalah amal birrul walidainmu, aku adalah ketika kamu di dunia menyayangi anak-anak yatim, aku adalah amal amar makrufmu, aku adalah amal nahi munkarmu, aku adalah amal jihadmu, dan aku adalah semua amal kebaikanmu ketika di dunia.”

Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, ketika seorang hamba yang beriman dimatikan oleh Allah subhanahu wata’ala maka ia akan diambil ruhnya dengan cara yang baik dan ditempatkan di tempat yang baik pula, bahkah ketika ruhnya diambil dikatakan kepadanya; يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ “Keluarlah kamu dari badan yang baik ini untuk menuju kepada Allah subhanahu wata’ala dan meraih keridhaan-Nya.” Sebagaimana cerita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam haditsnya yang panjang tadi.

Namun sebaliknya ketika yang dicabut nyawanya adalah seorang hamba yang fajir, ketika nyawanya hendak dicabut maka turunlah malaikat dari langit dengan wajah hitam menyeramkan, penampilannya menyeramkan, bukan kain kafan yang mereka bawa melainkan karung yang mengeluarkan bau yang amat busuk. Mereka duduk berbaris sepanjang mata memandang, kemudian datanglah malaikat maut yang duduk tepat di arah kepalanya, malaikat maut berkata dengan kasar kepada orang fajir tersebut; “Wahai jiwa yang kotor, keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah, keluarlah kamu menuju kemarahan Allah!” seketika itu juga ruhnya dipisahkan dari badannya, ditarik dengan keras bagaikan duri yang dicabut dari daging dalam keadaan basah, daging itu tercabik-cabik, ruh itu mencabik-cabik jasad nya, entah kakinya, entah juga tangannya, sedangkan jasad itu merasakan kesakitan yang amat sangat.

Ruh itu pun lantas diambil oleh para malaikat, mereka tidak membiarkannya sebentar pun kecuali mereka akan menaruhnya pada karung yang kasar dan berbau sangat busuk, setiap melewati malaikat pasti para malaikat itu mencium bau yang sangat busuk, para malaikat itu pun bertanya; “Ruh siapakah itu?” para malaikat yang membawanya menjawab; “Ruhnya fulan bin fulan” disebutkanlah nama dan panggilan yang paling buruk untuknya. Mereka meminta ijin untuk melewati pintu-pintu langit tetapi tidak dibukakan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat yang artinya; “Tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam jannah sampai ada onta yang masuk ke dalam lubang jarum.” Kemudian Allah subhanahu wata’ala berfirman; “Tuliskanlah kitab hamba-Ku ini di dalam Sijjil  lalu bawalah ia ke dunia dan taruhlah ia di dalam bumi yang paling bawah.

Ruh orang yang fajir itu pun dicampakkan ke dalam bumi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat yang artinya; “Dan barangsiapa yang menyekutan Allah seakan-akan ia terjatuh dari langit dan disabar burung atau dibawa angin ke tempat yang sangat jauh.” Demikianlah ma’asyiral muslimin bagaimana keadaan orang yang fajir saat ia menjalani kematiannya, ketika ruhnya dikembalikan ke jasadnya tiba-tiba dua malaikat dengan penampilan yang kasar dan mengerikan mendatangi orang tersebut lalu bertanya dengan membentaknya dan menghardiknya; من ربك؟ “Siapa Rabmu?”, orang fajir itu pun gagap tidak bisa menjawab, seakan-akan di dunia dulu ia pernah mendengar kata-kata tersebut, tapi akalnya sudah ditutup sehingga lisannya pun tidak bisa menjawab kecuali dengan kata-kata gagap; “hah.. hah.. hah.. saya tidak tahu” kemudian dia ditanya lagi, من نبيك؟ “Siapa Nabimu?” ia pun tidak bisa menjawab, apalagi ketika ditanya وما علمك؟ “Apa ilmumu?” ia pun tidak bisa menjawab. Semua itu diakibatkan oleh perbuatan buruknya ketika di dunia.

Ma’asyiral muslimin  yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, setelah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab itu kuburnya pun disempitkan, dihimpikan sehingga tulang-belulangnya pun hancur dari tubuhnya yang dulunya ia bangga-banggakan di dunia. Pada saat itu datanglah seorang laki-laki yang sangat mengerikan, dengan wajah hitam, berbaju jelek dan berbau busuk, ia berkata; “Berbahagialah, inilah hari yang dijanjikan yang dahulu pernah diberitakan kepadamu” lalu orang fajir bertanya; “Siapakah kamu? Kamu bukan datang dengan membawa kegembiraan, akan tetapi menyiratkan kesuraman” laki-laki itu menjawab; “Aku adalah amal burukmu, aku adalah amal jelekmu, aku adalah amal durhakamu kepada orang tuamu, aku adalah riba yang pernah kamu makan, aku adalah harta anak yatim yang dulu kamu rampas, aku adalah harta orang yang kamu paksa untuk kamu makan dengan cara yang tidak benar dan aku adalah seluruh amal burukmu ketika kamu berada di dunia.”

Demikianlah Ma’asyiral muslimin yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, begitu menyenangkannya ketika seorang itu menghadapi kematiannya dalam keadaan mukmin, namun begitu mengerikan ketika dalam keadaan fajir dan dalam keadaan kafir.

 نسأل الله العظيم أن يجعل لنا قبورنا روضة من رياض الجنة وأن يجعل لنا عباده المؤمنين، نستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب إنه هو الغفور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله، الحمد لله على إحسانه والشكر له على توفيقه

أشهد أن لا إله إلا الله تعظيما لشأنه وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وكل من اتبع بسننه واكتفى بهديه

أما بعد

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’ah rahimakumullah, para ulama menceritakan tentang kehidupan ruh dan kehidupan jasad ketika ada di kuburnya, mereka mengatakan bahwa adzab dan nikmat kubur itu selalu ada, oleh sebab itu marilah kita meyakininya dan mengimaninya. Ketika kita tidak meyakini bahwa adzab kubur itu ada maka ketika kita nanti berada di dalam kubur dan tiba-tiba adzab kubur itu ada maka kita pun akan menyesal.

Berbeda ketika kita meyakini dan mengimani bahwa adzab dan nikmat kubut itu ada, kalau pun nanti adzab kubur itu tidak ada kita pun tidak akan menyesalinya. Kita imani dan kita yakini nikmat dan adzab kubur itu ada dengan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya juga dengan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Demikianlah khutbah singkat yang bisa kami sampaikan, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beriman, dalam keadaan beriman kita hidup di dunia, ketika menghadapi kematian, ketika dikumpulkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam surga-Nya bersama orang-orang yang beriman.

إن الله وملائكته يصلون على النبي يأيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا

اللهم إنا نسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يبلغنا إلى حبك

اللهم إنا نسئلك الهدى والتقى والعفاف والغنى

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

وصلى الله وسلم على نبينا محمد ، سبحان الله رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

 

 

Khatib: Ust. Muzaidi

Editor : Adib

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *