
Oleh: Abu Athif, Lc. -غفر الله له ولوالديه-
Khutbah Pertama
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وأصلي وأسلّم على رسول الله محمد بن عبد الله الذي بلغ الرسالة، وأدى الأمانة، ونصح الأمة، وجاهد في سبيل الله حق جهاده حتى تركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها إلا هالك أفضل الصلاة والتسليم وعلى آله وأصحابه ومن سار على نهجه إلى يوم القيامة.
عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، قال الله ﷻ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾ ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
أما بعد، فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدى هدى النبي ﷺ وإن شر الأمور محتدثاتها، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dalam suasana yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah ﷻ. Taqwa yang bukan sekadar lisan, melainkan taqwa yang menjadi energi dalam mendidik diri, keluarga dan masyarakat kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Hari ini, kita menyaksikan sebuah paradoks besar dalam dunia pendidikan kita. Di satu sisi, fasilitas pendidikan semakin mewah, kurikulum semakin canggih, dan akses informasi ada dalam genggaman melalui kecerdasan buatan. Namun di sisi lain, kita menyaksikan kenyataan pahit di lapangan yang mengoyak hati kita.
Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan berbagai lembaga survei menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kasus perundungan (bullying) di sekolah terus meningkat, keterlibatan remaja dalam judi online mencapai angka yang fantastis, hingga krisis kesehatan mental yang membuat banyak anak muda kehilangan pegangan hidup.
Mengapa ini terjadi? Padahal mereka bersekolah, mereka belajar, dan mereka pintar secara akademik.
Jawabannya terletak pada apa yang disebut oleh para ulama sebagai “Keringnya Ruhiyah”. Kita sering kali terlalu sibuk mengisi otak anak-anak kita dengan rumus dan logika, namun lupa membasahi jiwa mereka dengan pengenalan kepada Allah ﷻ. Kita berhasil mencetak “tenaga kerja”, tapi sering kali gagal mencetak “manusia”.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Pendidikan tanpa kekuatan ruhiyah adalah pendidikan yang kehilangan “nyawa”. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, tentang hafalannya yang melambat. Sang guru menjawab:
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap karena kemaksiatan.”
Dalam Islam, ilmu tidak difahami sebagai pengetahuan (knowledge) semata, namun menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan iman. Karena ilmu yang benar akan menghantarkan kepada kekuatan iman kepada Allah ﷻ dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ.
Kekuatan ruhiyah dalam pendidikan setidaknya mencakup tiga pilar utama:
Pertama: Koneksi Langit (Ad-Du’a).
Banyak orang tua hari ini menghabiskan jutaan rupiah untuk kursus tambahan bagi anaknya, namun mereka “bakhil” atau pelit dalam meluangkan waktu di sepertiga malam untuk mendoakan hidayah bagi anaknya. Ingatlah, hati anak Anda ada di genggaman Allah, bukan di tangan guru atau buku teksnya. Kekuatan ruhiyah pendidik dimulai dari sujudnya. Sebagai orang tua dan guru, menjaga koneksi langit Adalah kebutuhan primer yang tidak boleh ditinggalkan.
Kedua: Keteladanan yang Bernyawa (Al-Qudwah).
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak mendengar apa yang kita katakan, mereka melihat apa yang kita lakukan. Jika kita menginginkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, namun mereka lebih sering melihat kita memegang gadget daripada mushaf, maka pendidikan ruhiyah itu telah gagal di titik awal.
Ketiga: Ikhlas sebagai Ruh Amal.
Data menunjukkan tingkat stres guru dan orang tua dalam mendidik sangat tinggi. Mengapa? Karena orientasi kita sering kali hanya hasil duniawi: nilai bagus, sekolah favorit, gaji besar. Ketika hasil tidak sesuai, kita kecewa. Kekuatan ruhiyah mengajarkan kita untuk ikhlas, bahwa mendidik adalah ibadah. Keikhlasan inilah yang akan mentransfer energi positif ke dalam jiwa sang anak. Sekaligus mengarahkan navigasi Pendidikan anak kita menuju kepada generasi akhirat bukan generasi duniawi. Generasi yang dipersiapkan untuk menjadi pejuang-pejuang syariat Islam di masa mendatang.
Mari kita belajar dari seorang hamba mulia yang diabadikan Namanya dalam AL Quran; dial ah Luqman. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Luqman ayat 13:
﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.”
Luqman tidak memulai dengan Pelajaran, nahwu, shorf, matematika atau ekonomi, ia memulai dengan menanamkan “Ruh Tauhid”. Inilah fondasi yang membuat seorang anak tetap tegak meskipun diterjang badai godaan zaman.
Semoga Allah menguatkan ruh kita dalam mengemban amanah pendidikan ini.
بارك الله لي لكم بالقرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم من كل ذنب وخطيئة وموبقة، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah Kedua
إن الحمد لله حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه كما يحبه ويرضاه، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن سار على نهجه واهتدى بهديه إلى يوم القيامة، وبعد، عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita merenung sejenak. Pendidikan yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual tanpa kekuatan ruhiyah ibarat membangun istana di atas pasir. Megah dipandang, namun mudah runtuh saat ombak persoalan hidup datang menerjang.
Data lapangan menyebutkan bahwa tingkat bunuh diri dan depresi di kalangan pelajar di negara-negara maju yang sangat menekankan prestasi akademik justru sangat tinggi. Ini adalah peringatan bagi kita bahwa kecukupan materi dan kecerdasan otak tidak menjamin kebahagiaan dan ketangguhan mental.
Oleh karena itu, marilah kita bawa kembali “Ruh” ke dalam rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Terlebih lagi Lembaga Pendidikan berbasis pondok pesantren sudah sewajibnya menjadi teladan dalam mengintegrasikan Pendidikan ruhiyah dalam proses pembelajaran. Karena penentu utama keberhasilan dalam perubahan diri seorang hamba Adalah ruhiyahnya.
Setidaknya ada lima Langkah yang harus diimplementasikan dalam Pendidikan ruhiyah di era materialisme saat ini:
Jadikan shalat berjamaah sebagai kurikulum utama di rumah, di sekolah dan terlebih lagi di pondok pesantren.
Jadikan kejujuran lebih berharga daripada nilai di atas kertas.
Jangan pernah putus asa untuk terus memperbaiki diri kita sendiri sebagai teladan utama bagi mereka.
Sibukkan diri dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah dalam tiga aspek; pikiran, Tindakan dan ucapan.
Berorientasi akhirat. Pendidikan kita harus bisa mengarahkan kepada husnul khotimah dan istiqomah di atas syariat Islam.
Dunia mungkin bisa memberikan anak-anak kita kekayaan, tapi hanya kekuatan ruhiyah yang bisa memberikan mereka ketenangan. Hanya kedekatan dengan Allah yang bisa membuat mereka berkata “tidak” pada narkoba, “tidak” pada pergaulan bebas, dan “tidak” pada kezaliman meskipun tidak ada orang yang melihat.
Ya Allah, perbaikilah keadaan generasi muda kami. Karuniakanlah kepada kami keturunan yang menjadi penyejuk mata dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa…
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم
﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
اعلموا عباد الله… أن الله أمر أمرا بدأ بنفسه، وثنّى بملائكته، وثلَّث بالمؤمنين حيث قال تبارك وتعالى:﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.
اللهم يا ربنا لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات.
اللهم إنا نسألك حبك وحب من يحبك وحب عمل يبلغنا به حبك. اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إليه معادنا، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير، واجعل الموت راحة لنا من كل شر.
اللهم إنا نسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك، والسلامة من كل إثم، والغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة، والنجاة من النار.
اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معصيتك، ومن طاعتك ما تبلغنا بها جنتك، ومن اليقين ما ما تهون به علينا مصائب الدنيا، ومتعنا بأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ما أحييتنا، واجعله الوارث منا، واجعل ثأرنا على من ظلمنا، وانصرنا على من عادانا، ولا تجعل مصيبتنا في ديننا، ولا تجعل الدنيا أكبر همنا، ولا مبلغ علمنا، ولا تسلط علينا من لا يرحمنا.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وسلم. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.



