HikmahKajian

MENYONGSONG LAHIRNYA KEMBALI GENERASI SHALAHUDDIN

Mendidik Generasi Muda Berkarakter Pembebas Masjidil Aqsa

Oleh: Abu Harits, Lc -غفر الله له ولوالديه-

Abstrak

Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama dan tempat diberkahi yang menjadi saksi bisu peristiwa Isra’ Mi’raj hingga kini masih berada dalam cengkeraman pendudukan Zionis. Di tengah keprihatinan umat, muncul pertanyaan besar: bagaimanakah melahirkan kembali generasi yang memiliki spirit seperti Shalahuddin al-Ayyubi, pembebas Baitul Maqdis pada abad keenam Hijriah? Tulisan ini mengkaji formula kebangkitan yang ditawarkan Dr. Majid Arsan al-Kailani dalam kitabnya, Hakadzha Zhahara Jilu Shalahuddin wa Hakadzha ‘Adatil Quds, yakni bahwa Al-Quds tidak kembali semata dengan pedang, melainkan dengan perbaikan diri, kebangkitan ilmu, kemuliaan akhlak, dan kesatuan barisan. Dengan metode kajian pustaka (nadhar turats) yang merujuk pada kitab-kitab tafsir, tarikh, dan tarbiyah, artikel ini merumuskan langkah-langkah mendidik generasi muda zaman now: menanamkan visi pembebasan sejak dini, menyeimbangkan ilmu agama dan ilmu kehidupan, membina akhlak dan kepemimpinan, mengutamakan persatuan, serta menghubungkan usaha dengan doa dan tawakal. Kesimpulannya, generasi Shalahuddin bukanlah fenomena masa lalu yang mustahil terulang, melainkan ciri dan semangat yang dapat dihidupkan kembali manakala proses tarbiyah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Kata Kunci: Generasi Shalahuddin, Tarbiyah, Masjidil Aqsa, Pembebasan Al-Quds, Spirit Jihad.

Pendahuluan

Masjidil Aqsa adalah tanah yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia adalah kiblat pertama bagi kaum muslimin, saksi bisu peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ﷺ, dan salah satu dari tiga masjid yang paling utama didatangi untuk beribadah. Namun hingga hari ini, bumi yang mulia itu masih berada dalam genggaman pendudukan Zionis Israel. Aqsa dinodai, penduduknya diusir, darah mereka tertumpah, dan setiap harinya umat Islam menyaksikan penderitaan yang tak kunjung usai.

Di tengah realitas yang memilukan itu, satu pertanyaan besar selalu menggema: di manakah generasi yang akan tampil melangkah teguh, menyatukan barisan yang tercerai-berai, dan mengembalikan kemuliaan Baitul Maqdis sebagaimana yang pernah ditunjukkan Shalahuddin al-Ayyubi lebih dari delapan abad silam? Pertanyaan ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Ia menuntut jawaban yang nyata, bukan sekadar retorika di mimbar-mimbar.

Dr. Majid Arsan al-Kailani, dalam karyanya yang mendalam, Hakadzha Zhahara Jilu Shalahuddin wa Hakadzha ‘Adatil Quds (“Begitulah Muncul Generasi Shalahuddin, dan Begitulah Kembalinya Al-Quds”), menegaskan satu kebenaran yang sering terlupakan: Al-Quds tidak akan kembali hanya dengan pedang atau seruan lisan. Ia kembali melalui perbaikan diri, kebangkitan ilmu yang tulus dari sumbernya, kemuliaan akhlak, dan kesatuan tujuan di tengah umat. Kemenangan di Hittin dan pembebasan Yerusalem pada tahun 583 H / 1187 M bukanlah kebetulan sejarah. Ia adalah buah dari proses pendidikan, pembentukan karakter, dan perjuangan panjang yang dimulai jauh sebelum pertempuran itu berkobar.

Allah Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

     Ayat ini menjadi titik tolak yang tak dapat digantikan. Sebelum membebaskan negeri, kita wajib membebaskan diri dari kelalaian, perpecahan, dan keterasingan dari ajaran agama. Sebelum melahirkan pemimpin besar, kita harus melahirkan generasi yang siap dididik dengan metode dan semangat yang pernah melahirkan Shalahuddin. Tulisan ini hendak merumuskan langkah-langkah nyata mendidik generasi muda zaman ini agar memiliki spirit dan karakter pembebas Masjidil Aqsa, dengan merujuk pada kitab utama tersebut serta khazanah turats para ulama dalam bidang tafsir, tarikh, dan tarbiyah.

Pembahasan

1. Hakikat “Generasi Shalahuddin” Menurut Dr. Majid Arsan al-Kailani

Dr. al-Kailani menguraikan dengan gamblang bahwa masyarakat yang melahirkan Shalahuddin dan tokoh-tokoh pendahulunya, seperti Nuruddin Zanki, tidak dimulai dari persenjataan atau kekuasaan. Ia dimulai dari pemulihan pemahaman agama dan kemuliaan akhlak. Sebelum Shalahuddin memegang tampuk kepemimpinan, dunia Islam sedang tercabik-cabik: perpecahan politik antara Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Fatimiyah di Mesir, dan kerajaan-kerajaan kecil di Syam; kemerosotan moral di kalangan penguasa; serta lemahnya kesadaran akan bahaya Salib yang mulai mendirikan negara-negara kecil di jantung dunia Islam. Nuruddin Zanki-lah yang mula-mula membangkitkan kesadaran itu, membangun madrasah, menghidupkan ilmu, dan menyatukan kekuatan. Shalahuddin kemudian melanjutkan dan menyempurnakannya.

Ada beberapa ciri utama generasi yang melahirkan pembebas Al-Quds itu.

Pertama, mereka menyadari sepenuhnya bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri. Mereka tidak hanya menyalahkan keadaan atau menuding musuh, melainkan memperbaiki niat, memperdalam ilmu, dan meninggalkan permusuhan antarkelompok.

Kedua, mereka menyeimbangkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Di masa itu, lembaga pendidikan tidak hanya mengajarkan Al-Qur’an, fiqh, dan hadits. Anak-anak juga belajar bahasa, kedokteran, hitungan, strategi perang, dan ketangkasan fisik. Semua ilmu dipandang sebagai sarana ibadah dan pengabdian kepada umat.

Ketiga, visi besar ditanamkan sejak dini. Ayah Shalahuddin, Najmuddin Ayyub, berkata kepada putranya semenjak kecil: “Aku membesarkanmu bukan agar engkau bermain-main, melainkan agar engkau membebaskan Baitul Maqdis!” Visi itu melekat dalam dada Shalahuddin hingga dewasa dan menjadi motor seluruh perjuangannya.

Keempat, mereka mengutamakan persatuan di atas perbedaan. Para ulama dan pemimpin masa itu meletakkan perselisihan, merangkul berbagai golongan dan mazhab, serta berjalan bersama di bawah satu tujuan: membebaskan tanah yang diberkahi.

Shalahuddin sendiri tidak dibesarkan dalam kemewahan. Beliau tumbuh dalam kesederhanaan, disiplin, dan ketaatan. Beliau menghafal Al-Qur’an, mendalami hukum agama, sekaligus menguasai berkuda, memanah, dan kepemimpinan. Didikan itu membentuk pribadi yang kuat imaninya, luas ilmunya, lembut hatinya, dan teguh pendiriannya. Inilah potret “generasi Shalahuddin” yang hendak kita hidupkan kembali.

2. Fondasi Tarbiyah: Dalil al-Qur’an, Sunnah, dan Pandangan Ulama

Pendidikan generasi pembebas Masjidil Aqsa tidak lahir dari program sesaat, melainkan berakar pada petunjuk Ilahi dan teladan kenabian. Setidaknya ada empat fondasi utama yang menjadi pijakan.

       Pertama, niat yang lurus sebagai awal segala langkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

        Niat yang benar mengubah kegiatan biasa menjadi ibadah luar biasa. Belajar, berlatih, menyebarkan kebaikan, dan mempersiapkan diri — semua itu menjadi amal jihad jika tujuannya lurus: menegakkan agama Allah dan memulihkan kemuliaan tempat-tempat suci. Syaikh Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam kitabnya, Tarbiyatul Aulad fi Dhauil Kitab was Sunnah, menekankan bahwa visi besar harus ditanamkan sejak dini ke dalam jiwa anak, agar ia tumbuh dengan kesadaran akan misi hidupnya.

        Kedua, kesiapan yang menyeluruh, sebagaimana firman Allah:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup dan kuda-kuda yang ditambat untuk berperang…” (QS. Al-Anfal: 60)

         Para ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir dalam Tafsirnya dan al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menjelaskan bahwa “kekuatan” (al-quwwah) di sini bukan hanya senjata. Ia mencakup ilmu pengetahuan, kesehatan fisik, kesatuan barisan, kecerdasan strategi, dan kesiapan mental. Shalahuddin menerapkan ayat ini sepenuhnya: beliau berjuang dengan doa sekaligus perencanaan matang, dengan kesetiaan kepada Allah sekaligus persiapan yang sungguh-sungguh.

        Ketiga, akhlak mulia sebagai kemenangan yang tak terlupakan. Allah memuji Nabi-Nya:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Al-Kailani menegaskan bahwa kemenangan Shalahuddin di Al-Quds bukan hanya kemenangan di medan perang, melainkan juga kemenangan akhlak. Ketika kota jatuh ke tangannya, beliau tidak menumpahkan darah, tidak merampok, dan tidak membalas dendam. Beliau memaafkan, menghormati tempat ibadah lain, dan membebaskan banyak tawanan tanpa tebusan. Sikap inilah yang membuat kawan maupun lawan segan dan menghormatinya hingga berabad-abad kemudian. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin mengingatkan: “Akhlak adalah fondasi kenabian; barangsiapa tidak memiliki akhlak, terputuslah hubungannya dengan para nabi.” Kekuatan tanpa akhlak hanya akan melahirkan penindas, bukan pemimpin yang diridhai Allah.

         Keempat, persatuan sebagai syarat kemenangan. Allah berfirman:

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

         Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perpecahan adalah sumber kelemahan, sementara persatuan di atas kebenaran adalah sumber kekuatan. Imam Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya juga menegaskan bahwa tegaknya peradaban dan kemenangan suatu umat sangat bergantung pada terpeliharanya ‘ashabiyah (ikatan kebersamaan), keadilan, dan kepatuhan pada aturan Ilahi. Tanpa persatuan, sehebat apa pun persenjataan tidak akan berarti.

3. Langkah Mendidik Generasi Shalahuddin di Zaman Sekarang

Berdasarkan kitab Hakadzha Zhahara Jilu Shalahuddin serta karya-karya ulama bidang tarbiyah, setidaknya ada enam langkah nyata yang dapat diterapkan oleh keluarga, pendidik, dan seluruh elemen umat.

         Pertama, menanamkan cinta dan tanggung jawab terhadap Masjidil Aqsa sejak dini. Jangan biarkan generasi muda tumbuh tanpa mengetahui kedudukan Masjidil Aqsa. Ceritakanlah keutamaannya, sejarah perjuangannya, dan kewajiban umat terhadapnya — bukan dengan cara yang menakutkan, melainkan dengan kasih sayang dan harapan yang hidup. Tanamkan di dada mereka: Baitul Maqdis adalah milik kita, dan tanggung jawab memulihkannya ada di pundak kita. Syaikh ‘Ulwan menekankan bahwa anak yang sejak kecil telah dikenalkan dengan perjuangan dan pahlawan akan tumbuh dengan jiwa yang besar.

         Kedua, menggabungkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Jangan memisahkan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”; keduanya saling melengkapi. Menguasai teknologi, bahasa asing, kedokteran, ekonomi, dan ilmu sosial adalah bagian dari persiapan kekuatan yang diperintahkan Allah dalam QS. Al-Anfal: 60.

Didiklah anak-anak agar memahami bahwa setiap ilmu yang bermanfaat, jika diniatkan karena Allah, adalah jalan menuju kemenangan. Madrasah Nuruddin Zanki dan para pendahulu Shalahuddin membuktikan bahwa ilmu yang seimbang melahirkan generasi yang tangguh.

Ketiga, membentuk karakter: kesederhanaan, kejujuran, dan keteguhan. Shalahuddin wafat dalam keadaan sederhana — tidak meninggalkan harta yang berlebih, bahkan hartanya tidak cukup untuk membiayai pemakamannya. Kekayaan sejati yang beliau tinggalkan adalah nama yang harum, akhlak yang diingat, dan semangat yang diwariskan. Didiklah generasi muda untuk tidak tergila-gila pada kemewahan, tidak takut hidup sederhana demi kebenaran, dan memegang janji meskipun berat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim) Kekuatan di sini mencakup fisik, ilmu, dan keteguhan hati.

Keempat, mengutamakan persatuan di atas perbedaan.

Al-Kailani menekankan satu fakta penting: Shalahuddin tidak memenangkan Al-Quds sendirian. Beliau menyatukan kekuatan dari Mesir, Syam, dan Jazirah, merangkul ulama berbagai mazhab, dan mengajak semua kelompok berjalan bersama. Didiklah anak-anak untuk menghormati perbedaan, menjaga lisan dari cela-mencela, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan kelompok atau pribadi. Perpecahan hanya akan dimanfaatkan oleh musuh untuk memperlemah barisan.

Kelima, melatih fisik dan kedisiplinan. Shalahuddin dan para pendekar masa itu terbiasa berkuda, memanah, dan berenang — tiga cabang olahraga yang sangat dianjurkan Rasulullah. Di zaman sekarang, bentuknya dapat disesuaikan: olahraga teratur, hidup sehat, disiplin waktu, dan ketahanan mental. Tubuh yang kuat dan jiwa yang disiplin adalah modal dasar perjuangan. Generasi yang lemah fisik dan malas tidak akan sanggup memikul beban pembebasan.

Keenam, menghubungkan usaha dengan doa dan penyerahan diri kepada Allah. Kemenangan adalah janji Allah, tetapi ia tidak datang kepada mereka yang berdiam diri. Shalahuddin berdoa sambil berjuang, berusaha sekuat tenaga sambil berserah diri kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengingatkan: “Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan meluruskan niat sambil berjuang sekuat kemampuan.” Doa tanpa usaha adalah khayalan, dan usaha tanpa doa adalah kesombongan. Keduanya harus berjalan beriringan.

4. Tantangan Zaman dan Harapan Kebangkitan

Di masa kini, tantangan kita tidak hanya datang dari luar. Ada tantangan yang lebih berbahaya, yaitu yang bersarang di dalam diri: kemalasan, keterasingan dari Al-Qur’an, perpecahan, dan gaya hidup konsumerisme yang melenakkan. Banyak generasi muda yang hafal nama-nama artis tetapi lupa nama-nama pahlawan Islam; banyak yang hafal gaya hidup dunia tetapi lupa sejarah perjuangan agamanya. Di sisi lain, musuh terus menjalankan propaganda dan normalisasi, berusaha membuat umat lupa dan menerima pendudukan sebagai takdir.

Namun al-Kailani mengingatkan dengan tegas: kebangkitan selalu mungkin terjadi, selama ada sekelompok orang yang kembali kepada Allah dengan tulus, memperbaiki diri, dan berjuang dengan ilmu serta amal. Sejarah mencatat bahwa kebangkitan umat selalu dimulai dari sekelompok kecil orang yang istiqamah, bukan dari kerumunan yang besar namun lalai. Al-Quds tidak akan kembali dengan ucapan semata. Ia akan kembali jika kita berubah: dari pemalas menjadi pekerja keras yang bermanfaat, dari pemecah belah menjadi penyatu hati, dari penonton yang berdiam diri menjadi pelaku yang berkontribusi, dan dari yang lupa akan Baitul Maqdis menjadi yang merindukan dan berjuang untuknya.

Penutup

Generasi Shalahuddin bukanlah sekelompok orang yang hilang delapan abad silam. Ia adalah sifat, semangat, dan jalan yang dapat dihidupkan kembali pada siapa saja — anak, pemuda, maupun orang dewasa — yang membekali diri dengan iman yang teguh, ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, visi yang jelas, dan kesabaran yang tak tergoyahkan. Formula yang ditawarkan Dr. al-Kailani sangat jelas: perbaiki diri, hidupkan ilmu, mulia-kan akhlak, satukan barisan, dan berjuanglah dengan sungguh-sungguh sambil bertawakal kepada Allah.

Sebagaimana Allah mengembalikan Al-Quds dengan tangan Shalahuddin — setelah didahului perbaikan, pendidikan, dan perjuangan bertahun-tahun — maka Allah akan mengembalikannya lagi melalui tangan generasi yang hari ini sedang kita didik. Maka marilah kita bersegera menanamkan di hati setiap anak muda pesan ini: Masjidil Aqsa menanti kiprah kita. Janji kemuliaan adalah keniscayaan, jika kita bersiap diri menyongsongnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

-“Dan sungguh, pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)-

 

Referensi:

Al-Qur’anul Karim. Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Al-Kailani, Majid Arsan. Hakadzha Zhahara Jilu Shalahuddin wa Hakadzha ‘Adatil Quds. Beirut: Darul Qalam, 1423 H / 2002 M.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir Ibnu Katsir. Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. Kairo: Darul Hadits.

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya’ ‘Ulumuddin. Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah.

‘Ulwan, Abdullah Nashih. Tarbiyatul Aulad fi Dhauil Kitab was Sunnah. Riyadh: Maktabah al-Rusyd.

Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin. Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Riyadh: Darul Wafa.

Ibnu Khaldun, Abdurrahman. Muqaddimah. Kairo: Darul Ma’rifah.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wan Nihayah. Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah.

Adz-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikhul Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A’lam. Beirut: Darul Kitab al-‘Arabi.

Al-Mubarrid, Ali bin ‘Isa. (penyunting) Shalahuddin al-Ayyubi: Shahwah wa Fath. Kairo: Dar al-Salam.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button