HikmahKajian
Trending

HIDUP SEIMBANG SEBAGAI PERWUJUDAN MA’NA BERQURBAN

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَفَرَضَ الْحَجَّ عَلَى عِبَادِهِ كِرَامًا وَإِحْسَانًا، وَهُوَ الْغَنِيُّ الأغنى وجعله حجابا بَيْنَ النَّاسِ وَالنار. رَحْمَةً مِنْهُ تَعَالَى وَلُطْفًا وَمَنًّا، وَالْحَجُّ رُكْنٌ مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ وَجُزْءٌ مِنَ الدِّيْنِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ نَهَى وَأَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ أَفْضَلُ مَنْ حَجَّ وَاعْتَمَرَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَئِمَّةِ الْعَامِلِيْنَ وَالْهُدَاةِ الْمُصْلِحِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

اِعْلَمُوْا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Pada hari ‘Idul Ad-ha ini, ada tiga peristiwa penting yang dijadikan momentum bersejarah bagi kehidupan umat manusia.

Peristiwa pertama: secara serempak Umat Islam diundang Allah SWT. untuk melaksanakan shalat ‘Idul Ad-ha berjama’ah, dan dianjurkan untuk diselenggarakan di lapangan terbuka. Bayangkan betapa banyak tempat yang digunakan Umat Islam di jagat raya ini untuk shalat ‘Idul Ad-ha. Inilah momen aksi serentak yang melambangkan kesatuan dan persatuan Kaum Muslimin.

Peristiwa kedua: bergelimpangan ternak qurban berjuta-juta, dan mengalirnya tetesan darah tanda pengurbanan Umat Islam. Biasanya tetesan darah melambangkan kekejaman dan kebengisan. Namun peristiwa qurban Umat Islam di hari ‘Idul Ad-ha merupakan perwujudan taat kepada Allah SWT dan satu kegiatan sosial yang melambangkan kasih sayang kepada sesama umat, bahkan rahmatan lil ‘alamin. Penyembelihan ternak qurban ini mempunyai dampak positif terhadap penyelesaian problema kemasyarakatan, di samping peningkatan jiwa semangat pengurbanan. Tidakkah nenek moyang Kaum Muslimin, yaitu Nabi Ibrahim a.s. sudah menunjukkan contoh bahwa beliau tidak ragu-ragu berqurban menyembelih putranya sendiri yang bernama Ismail? Cobalah kita bayangkan, sekiranya Nabi Ismail r.a. benar-benar tersembelih, apa jadinya sejarah dunia fana yang kita tempati ini?

Peristiwa ketiga: ibadah haji di tanah suci Makkah al-Mukarramah yang dilaksanakan oleh Kaum Muslimin yang dilimpahi kurnia menyahut panggilan Allah SWT. Inilah mu’tamar dunia yang dihadiri berbagai bangsa, bahasa dan ras, yang menyuarakan nada yang sama, takbir, tahmid dan tahlil. Suaranya membahana, seirama dan setujuan, yaitu menyahut panggilan Allah SWT.

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك بيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Sekiranya ketiga peristiwa itu direkam sekaligus dan dipertontonkan kembali kepada kita, maka setiap yang melihat akan kagum dan terpesona, yang kemudian tumbuhlah perasaan tak berdaya, kecil di hadapan Allah Maha Besar.

Hati siapa yang tidak akan terhenyak mendengarkan pengalaman ibadah yang panjang di Makkah al-Musyarafah. Seluruh hari-hari di tanah suci selama menunaikan ibadah haji, menjadi ibadah. Seluruh langkah dan ucap merupakan ibadah. Bibir selalu bergumam membaca doa-doa. Sekiranya kita berhijrah ruhaniah sejenak ke Tanah Suci Makkah akan terpesona melihat megahnya Masjidil Haram di lembah yang dalam, menjulang tinggi kubahnya, dan terlihat pula Ka’bah yang kokoh anggun berselimutkan kiswah (kain hitam kelam) bertuliskan kaligrafi dari benang emas. Tanpa terasa lidah berucap:

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا البَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شرفه وكرمه ممن حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا

Ya Allah, tambahlah kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kehebatan bagi rumah-Mu, serta tambahlah kehor-matan, kebesaran, kemuliaan dan kebajikan bagi orang yang menghormati dan memuliakannya, bagi yang menunaikan ibadah haji ataupun umrah.

Menetes airmata karena rasa berbaur antara haru, kagum, gembira dan kecil di saat melihat kebesaran dan keagungan Baitullah

الله أكبر الله أكبر ولله الحد

Dalam suasana seperti itu, hati tercekam oleh keagungan dan kebesaran Allah, sehingga terasa benar santunan Rasulullah SAW yang meneruskan wahyu Ilahi kepada umatnya. Allah Maha Besar. Segala persoalan di dunia ini selalu kecil. Tak ada yang patut dibanggakan, karena segalanya kecil. Kecantikan dan ketampanan dalam beberapa detik saja dapat pudar karena kekuasaan dan kebesaran Allah. Harta kekayaan yang melimpah ruah dapat sirna dalam sekejap. Kepangkatan dan kebangsawanan akan tidak berarti dihadapkan kepada keagungan Yang Maha Kasih. Bahkan nyawa yang menjadi motor penghidupan dapat dicabut tanpa diketahui manusianya. Apa yang dapat dibangga-banggakan manusia, padahal Allah Maha Besar.

Tanpa terasa pikiran melayang ke mana-mana, badan terasa menciut dan teringat akan firman Allah SWT:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ . (الحديد:٢٠)

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia tiada lain hanyalah permainan, kesenangan, perhiasan dan (arena tempat) membusungkan dada di antara kalian, serta (tempat) bersaing untuk memperoleh harta dan memperbanyak anak, bagaikan tumbuh-tumbuhan setelah turun hujan, tumbuhnya menggembirakan petani, namun kemudian jadi kering kerontang serta terlihat jelas tumbuhan-tumbuhan itu menguning hingga menua. Dan di akhirat kelak ada siksaan yang hebat, di samping ampunan, ridla Allah. Dan kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah kesenangan palsu belaka.(Q.S. 57 al-Hadid : 20)

Begitu digambarkan oleh Allah SWT dalam al-Quran, bahwa dunia yang selalu menjadi incaran, idaman dan kejaran manusia, nyatanya hanyalah kesenangan palsu belaka. Sekiranya kita simak lebih mendalam, ada lima predikat kehidupan dunia yang dilukiskan Allah SWT dalam ayat tersebut di atas.

Yang pertama: Kehidupan dunia dipandang sebagai arena permainan (lá’ibun). Menurut tafsiran Imam Fakhrurrazi, gambaran permainan tersebut dapat dianalogikan dengan keasyikan permainan anak-anak. Mereka asyik berlari-lari ke sana ke mari, tanpa arah yang jelas, tidak hirau akan lingkungan, tanpa melihat resiko yang mungkin akan menimpanya. Mereka terus bermain tanpa mengenal lelah, dengan penuh kepuasan, sekalipun permainan cukup melelahkan. Bukankah permainan itu tidak memberi hasil, karena memang maksudnya sekedar bermain? Bukanlah bermain itu sekedar bermain tanpa memberikan manfaat? Begitulah bermain itu bagaikan menggantang asap dari langit.

Yang kedua: Kehidupan dunia dipandang sebagai suatu kesenangan (lahwun) untuk sekedar kepuasan diri. Imam Fakhrurrazi menganalogikannya pada remaja yang mempunyai tujuan hidup yang masih samar-samar. Menurut gambaran remaja, hidup itu bertujuan untuk memperoleh penghasilan yang memenuhi kepuasan diri, bagi keperluan sandang dan pangan. Remaja seperti ini tidak memiliki idealisme yang kokoh.

Yang ketiga: Kehidupan dunia dipandang sebagai perhiasan (zinatun). Imam Fakhrurrazi menganalogikannya pada remaja putri yang sedang menyenangi perhiasan emas berlian. Bukankah perhiasan itu sekedar memberikan keni’matan yang tidak bersifat hakiki? Betapa banyak remaja yang berperhiasan, menarik para hidung belang untuk memiliki perhiasannya, sedangkan remaja putrinya dicampakkan begitu saja? Remaja itu menjadi indah dan cantik karena perhiasannya belaka, sedangkan apabila perhiasannya dilepas, ia tidak menarik lagi.

Yang keempat: kehidupan dunia dipandang sebagai arena untuk bersaing dan membusungkan diri, mengalahkan sesamanya. Kekuasaan, ilmu dan ketampanan dijadikan bahan persaingan dalam mengatasi sesama manusia. Dinamika kehidupan cenderung mengarah pada saling menjegal dan merebut, tanpa mengenal batas.

Yang kelima: kehidupan dunia dipandang sebagai arena adu kekayaan dan keturunan. Kepala selalu tengadah melihat kalau-kalau ada tetangga yang melebihi harta kekayaannya. Karena persaingan seperti ini mendorong orang untuk menggunakan cara apa pun dalam merebut dan meraih harta. Anak keturunannya diusahakan untuk menduduki berbagai jabatan, sekalipun jabatan itu tidak pantas didudukinya. Persaingan ini berakibat negatif bagi kelangsungan hidup bermasyarakat yang sehat.

Memang sulit hidup di panggung sandiwara seperti itu. Sekiranya kehidupan dunia itu tidak dikendalikan iman, betapa banyak orang yang terperosok ke dalam kenistaan. Mereka ini dapat terperangkap dalam dua katagori:

Katagori pertama: ada yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan hidup. Segala daya dan tenaga diarahkan untuk memperoleh kekayaan duniawi. Kekayaan, kemegahan, kedudukan, kekuasaan dan popularitas akan selalu menjadi kejarannya, sehingga akhirnya terperangkap dalam keasyikan hidup gersang.

Orang seperti ini diungkapkan dalam riwayat at-Thabrani sebagai berikut:

مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ وَأَلْزَمَهُ اللهُ أَرْبَعَ خِصَالٍ: هَمًّا لَا يَنْقَطِعُ أَبَدًا وَشُغْلًا لَا يَتَفَرَّغُ مِنْهُ أَبَدًا وَفَقْرًا لَا يَبْلُغُ غِنَاهُ أَبَدًا وَأَمَلًا لَا يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ أَبَدًا. (رواه الطبراني)

Barangsiapa yang bangun pagi hari dan hanya dunia sajalah yang menjadi pusat perhatiannya, sehingga seolah-olah sama sekali tidak melihat adanya hak Allah dalam dirinya, Allah akan menanamkan empat penyakit: (1) kebingungan yang tidak pernah putus-putusnya; (2) kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya; (3) kebutuhan yang tidak akan pernah terpenuhi; (4) khayalan yang tidak akan berujung sama sekali.  (H.R. Thabrani)

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Katagori kedua: ada yang menjadikan kehidupan ini sebagai penjara hidup. Tak ada hasrat sama sekali untuk merasakan kenikmatan hidup selaku manusia. Hidupnya terpusat untuk memikirkan pengabdian dan amal semata. Tak ada kesempatan sama sekali untuk bersantai-santai bersama keluarga, atau berperan serta dalam urusan kemasyarakatan. Kesengsaraan dan kemelaratan hidup di dunia ini dipandang wajar karena berharap akan memperoleh keni’matan akhirat. Dunianya terbatas dari dinding masjid ke dinding masjid. Nasib anak istrinya tidak pernah mendapat tempat dalam benaknya untuk disejahterakan.

Tentu saja kedua katagori ini tidak berasal dari ajaran Islam. Bukankah Allah berfirman dalam al-Quran:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ. (القصص : ٧)

Hendaklah engkau manfaatkan segala yang dikaruniakan Allah untuk kehidupan di akhirat, tapi jangan engkau lupakan kebahagiaanmu di dunia, serta berbuat baiklah engkau sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah engkau timbulkan kerusakan di bumi, karena sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang yang merusak. (Q.S. 28 al-Qashshash : 77)

Islam menentukan arah yang jelas kepada umatnya agar mencapai tujuan hakiki. Kehidupan dunia hendaknya dijadikan jembatan dalam usaha mencapai tujuan tersebut. Keni’matan duniawi tetap perlu diusahakan agar dapat hidup layak selaku manusia, hidup tenang, mempunyai kedudukan mantap, badan sehat, sehingga dapat ibadah dengan khusyu kepada Allah SWT segala kenikmatan yang diperolehnya, dimanfa’atkan untuk berbuat kebajikan kepada sesama manusia. Hidupnya seimbang, menunjukkan sikap taat kepada Allah SWT. Usahanya selalu jadi amal, langkahnya selalu jadi ibadah, tak terkilas dalam benak kepalanya untuk merampas dan iri pada nasib orang lain. Ia tidak bersikap masa bodoh terhadap keseluruhan kehidupan, namun nampak hidup layak selaku manusia, disegani orang, hidup terhormat, dan tidak pernah meminta belas kasih orang lain.

Usahanya punya arah yang jelas, sehingga shalat, zakat, shaum, dan ibadah haji dapat ditunaikan sesuai dengan ketentuan yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Kelangsungan hidup selaku Mu’min akan selalu diuji oleh Allah SWT melalui berbagai bentuk aktivitas syetan yang menyamar sebagai manusia, dapat juga mengganggu ketekunan kita mengabdi kepada Allah SWT.

Syetan tahu pada pertahanan yang paling lemah dalam kehidupan keluarga, yakni kaum ibu. Sekiranya syetan berhasil menggoda ibu rumah tangga, maka keluarga itu akan terbelenggu oleh ajakan syetan. Sejarah Qurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. pun tidak lepas dari rongrongan syetan, yang mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap intrik-intrik syetan.

Yang menjadi target pertama syetan dalam mengganggu keharmonisan hidup berkeluarga adalah menggoda isteri. Dalam peristiwa Nabi Ismail, isteri Nabi Ibrahim menjadi sasaran pertama. Di saat mengganggu Siti Hajar, syetan berkata: “Wahai Siti Hajar! Apakah engkau akan membiarkan anak kandungmu disembelih oleh tangan ayahnya?” Dianjurkan agar Siti Hajar segera bertindak sebelum Ismail tergelepar-gelepar berlumuran darah. Menjawab ocehan iblis, Siti Hajar menjawab: “Ayahnya akan lebih kasih daripadaku, dan tidak ada pilihan bagi suamiku, kecuali taat menjalankan perintah Allah”.

Iblis pun berlalu dari Siti Hajar mendekati Ismail a.s. dengan maksud menghasutnya dan menyatakan bahwa perintah penyembelihan itu merupakan kemauan jahat ayahnya. Namun Ismail menjawab: “Saya yakin bahwa perintah ini datang dari Allah”.

Sebagai usaha terakhir, iblis pun mencoba mempengaruhi Nabi Ibrahim sendiri. Dengan tegas Nabi Ibrahim berkata: “Enyahlah engkau hai bedebah iblis! Demi Allah, aku tak akan surut setapak pun untuk melaksanakan perintah Allah”.

Selanjutnya terungkapkan dalam tarikh bahwa ketika Siti Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim a.s. menolak hasutan syetan, mereka melontar iblis dengan batu tujuh kali. Didasarkan pada peristiwa ini, kemudian disyari’atkan supaya jama’ah haji melempar Jumratul Ula, Jumratul Wustha dan Jumratul Aqabah di tempat Nabi Ibrahim a.s. beserta anak isterinya melontar iblis.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Nabi Ibrahim a.s., isterinya serta putranya telah mewariskan ajaran yang perlu kita teladani, namun tidak sedikit manusia yang telah mendapat nikmat waktu belum tergerak hatinya untuk melaksanakan Qurban. Semoga kita semua tidak termasuk kelompok ini.

من كان له سعة فلم يضح فلا يقربن مصلا نا

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Allah tidak meminta daging korban dari kita semua Allah Ta’ala tidak perlu. Pada dasarnya atau daging korban tak sedikitpun dapat pun akan sampai kepada Allah. Yang diterima Allah adalah ketakwaan, motif, Pendoroang dan Penggerak Pelaksaanaan korban itu sendiri, yaitu niat. Ibadah makbulah kita (yang benar itu tergantung takwa). Karena tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Jika memang cinta maka siap berkorban.

Dikaitkan dengan peran serta kita dalam pembangunan bangsa, nilai-nilai ‘Idul Qurban merupakan perwujudan rasa syukur kita kepada Allah SWT berlandaskan peringatan Allah SWT dalam al-Quran surah al-Hadid ayat 21, diharapkan kita menjadi berani hidup dalam arti hidup tidak tanggung-tanggung, tidak menjadi manusia yang setengah-setengah. Sekiranya kita menjadi pedagang, jadilah pedagang yang takwa . Sekiranya kita menjadi pelajar dan mahasiswa, jadilah pelajar dan mahasiswa yang bertakwa. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, siap berkorban apa saja demi mendapatkan ilmu. Tidak akan pulang ke kampung sebelum berhasil menjadi orang yang berilmu.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Marilah kita akhiri dengan du’a, munajat kepada Allah Maha Pengasih Penyayang.

الحميد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين.

اللَّهُمَّ إنانسألك رضا ك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار

Allahumma ya Allah, Engkau Maha mendengar ucapan kami, melihat kedudukan kami, mengetahui segala urusan kami baik yang tersembunyi ataupun yang nyata, tidak satu pun yang tersembunyi dari penglihatan-Mu ya Allah.

Ya Allah, kami berkumpul di sini memenuhi panggilan-Mu, munajat kepada-Mu serta memohon ampunan-Mu.

Ya Allah, ampunilah segala dosa kami baik yang kami sadari ataupun tidak kami sadari. Bagi-Mu ya Allah tiada yang tertutup, Engkaulah ya Allah yang mengetahui segala hidup kami, Engkaulah yang mengetahui segala dosa kami. Sekiranya Engkau tidak mengampuni dosa kami dan tidak melimpahkan rahmat kepada kami, sungguh kami termasuk orang yang rugi dan tidak sanggup menerima dahsyatnya api neraka.

Ya Allah, ampunilah segala dosa kami dan dosa ibu bapak kami. Limpahkanlah rahmat kurnia-Mu bagi kedua orangtua kami. Mereka telah berusaha menyantuni kami sejak kecil, namun kami tak kuasa membalas budi baik mereka.

Ya Allah, Engkaulah yang mendengar jeritan hati kami serta Engkaulah yang akan meluluskan permohonan kami ini.

اللَّهُمَّ حَسِّنْ أَخْلَاقَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنوِّر قلوبنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَالى الخير قرِّ بنا وَعَنْ الشَّر ابعدنا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Ya Allah, semoga Engkau memperindah akhlak kami, melimpahkan kesehatan jasad dan ruhani kami, menyinari qalbu kami, membaikan amal perbuatan kami. Ya Allah, dekatkanlah kami pada kebaikan dan jauhkanlah kami dari kejahatan. Penuhilah kebutuhan kami ya Allah, baik yang berkenaan dengan Agama, kehidupan duniawi dan akhirat.

Ya Allah, ya Rabbal alamin, jadikan kampung yang aman dan tentram. Jadikanlah penghuninya orang-orang yang taat dan merasa takut kepada-Mu. Baik orang laki-laki, baiknya wanita, anak-anak, baik orang tuanya maupun pendatangnya semua menjadi ahli taat dan menyukai ilmu.

Ya Allah, Rab kami, jadikanlah pondok pesantren Al Muttaqin sebagai pusat pembelajaran ilmu dan adab, kebaikan dan jadikan pondok pesantren Al Muttaqin selalu jaya sepanjang masa. Jadikanlah muridnya sabar dan tekun menuntut ilmu agama

sehingga menjadi orang yang sholeh pada dirinya dan mampu men-sholehkan orang selainnya dirinya.

Ya Allah, jadikan guru-guru pondok pesantren Al Muttaqin selalu sehat, selalu giat, selalu ikhlas, dan berilah kecukupan rizkinya sehingga bisa membantu meningkatkan tugas mendidik  murid-muridnya.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الله أكبر ×3

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button