HikmahKajian
Trending

Amalan-Amalan Sunnah Di Awal Bulan Dzulhijjah

Oleh: Abu Athif -غفر الله له ولوالديه-

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu rangkaian bulan mulia yang diagungkan dalam Islam. serupa yang telah dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

﴿إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ۝﴾ (التوبة: الآية ۲٦).

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [QS. Al Taubah: ayat 26]

Empat bulan yang mulia dalam sepanjang tahun tersebut dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam salah satu sabdanya:

إنَّ الزَّمانَ قد استدار كهيئتِه يومَ خَلَق اللهُ السَّمواتِ والأرضَ، السَّنةُ اثنا عَشَرَ شَهرًا، منها أربعةٌ حُرُمٌ، ثلاثٌ متوالياتٌ: ذو القَعْدةِ، وذو الحِجَّةِ، والمحَرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بين جُمادى وشَعبانَ (رواه أبو داود)

Artinya: “waktu sesungguhnya telah tersebar seperti bentuknya sejak hari di mana Allah menciptakan langit-langit dan bumi, satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan mulia, tiga berurutan: Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab bulannya kaum Mudhor yaitu antara bulan Jumadil akhirah dan Sya’ban”. [HR. Abu Dawud]

tahu kita? Bahwa di antara empat bulan mulia tersebut ada rangkaian hari-hari Istimewa yang Allah memuliakannya dan sangat mencintai semua amal sholih yang dipersembahkan dari seorang hamba kepada-Nya. Hari-hari yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Kemuliaan ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam sebuah haditsnya:

ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ . Nilai : يا رسولَ اللهِ ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ إلَّا رجل خرج بنفسِه ومالِه فلم يرجِعْ من ذلك بشيءٍ (رواه البخاري)

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang amal Sholih di dalamnya lebih dicintai Allah dari pada hari-hari ini” (yaitu sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah). Lalu para sahabat berkata: “Tidak pula Jihad di jalan Allah?” lalu Rasulullah bersabda: “Tidak pula Jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian dia tidak kembali dengan sesuatu apapun darinya (mati syahid)”. [HR. Bukhari]

Secara gamblang hadits ini menerangkan keutamaan bagi seorang hamba yang bersungguh-sungguh dalam beramal sholih maka akan mendapatkan derajat di bawah kedudukan orang yang mati syahid di jalan Allah ﷻ. Sekaligus menunjukkan betapa agungnya sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Dari sinilah para ulama mengambil kesimpulan bahwa amalan biasa yang dikerjakan di waktu yang mulia akan terangkat derajatnya menjadi amalan mulia bahkan dilipatgandakan pahalanya.

Imam Ibnu Rajab al Hanbali -رحمه الله- menyatakan dalam kitabnya Lathoif al Ma’arif bahwa dahulu generasi salaf senantiasa mengagungkan dan memuliakan tiga kumpulan sepuluh hari: sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama di bulan Muharram. [Lathoif al Ma’arif fii maa li mawasim al ‘aam min al wadhoif, hal 80].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya; manakah yang lebih mulia antara sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dengan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan? Beliau menjawab: “hari-hari di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah lebih utama dari pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, namun sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari pada sepuluh malam pertama di bulan Dzulhijjah”. [Majmu’ al Fatawa, juz 25 hal 287]

Lalu amalan apa sajakah yang disunnahkan untuk dikerjakan di hari-hari mulia tersebut? Berikut ini adalah ringkasan dari amal-amal yang dianjurkan untuk dikerjakan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah:

Memperbanyak puasa sunnah.

Tidak diragukan lagi bahwa puasa merupakan amalan bernilai tinggi di sisi Allah ﷻ. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits qudsi:

يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ إنَّمَا يتْرُكُ طعامَهَ وشَرَابَهُ مِن أجْلِي فصيامُهُ لَه وأنا أجزِي بِه كلُّ حسنةٍ بعشرِ أمثالِهَا إلى سبعمائِةِ ضعفٍ إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Allah berfirman: setiap amalan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, (puasa) itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, sesungguhnya dirinya meninggalkan makan dan minumnya demi untuk-Ku, maka puasanya adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat kecuali puasa, maka dia adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Jika di hari-hari biasa saja pahala puasa bisa mencapai tak terhingga karena Allah ﷻ sendiri yang akan langsung membalasnya, lalu bagaiamana kiranya jika puasa dilaksanakan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah? Sungguh akan menjadi amalan bernilai sangat tinggi di hadapan Allah. Masihkah kita enggan untuk berpuasa sunnah secara Mutlaq di hari-hari agung ini? Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa hukum berpuasa secara Mutlaq di tanggal 1 hingga 8 Dzulhijjah adalah diperbolehkan.

Puasa Arofah di tanggal 9 Dzulhijjah.

Hari Arofah adalah hari yang agung. Di hari ini Allah ﷻ membebaskan para hambanya dari siksaan api neraka. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits qudsi:

ما من يومٍ أكثرُ من أن يعتِقَ اللهُ فيه عبيدًا من النَّارِ من يومِ عرفةَ ، وأنه لَيدنو ، ثم يباهي بهم الملائكةَ فيقول : ما أراد هؤلاءِ ؟ اشهَدوا ملائكتي أني قد غفرتُ لهم (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Tidak ada hari yang mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka melebihi dari pada hari Arofah, dan sesungguhnya Dia (Allah) mendekat kemudian membanggakan para hamba-Nya di hadapan para malaikat, lalu berfirman: “Apa yang diingkan mereka (para hamba)? Saksikanlah wahai para malaikat-Ku sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka”. [HR. Bukhori dan Muslim].

Demi menggapai ampunan Allah ﷻ maka disunnahkan bagi kaum muslimin untuk berpuasa di hari tersebut. Terkait dengan keuatamaannya Nabi ﷺ bersabda :

 صِيامُ يومِ عَرَفَةَ، إِنِّي أحْتَسِبُ على اللهِ أنْ يُكَفِّرَ السنَةَ التي قَبلَهُ، والسنَةَ التي بَعدَهُ، وصِيامُ يومِ عاشُوراءَ، إِنِّي أحْتَسِبُ على اللهِ أنْ يُكَفِّرَ السنَةَ التِي قَبْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Puasa hari Arofah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya”. [HR. Muslim]

Memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid.

Atsar dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah bahwa beliau berdua jika telah memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah senantiasa keluar menuju pasar dan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Kemudian orang-orang yang ada di sektarnya mengikuti takbir. [Fathul Baari, juz 2 hal 563].

Dari atsar tersebut dapat dipahami bahwa para sahabat senantiasa menghidupkan sunnah takbir sejak memasuki awal bulan Dzulhijjah hingga akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah).

Adapun lafadz takbir yang masyru’ dan sering diperdengarkan serta diakui oleh semua madzhab fiqh adalah sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلـِــلّهِ الْحَمْدُ

Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan Hanya untuk Allah segala pujian.

Menahan diri dari memotong kuku dan rambut sebelum hewan qurban disembelih.

Bagi seorang muslim yang hendak berqurban maka disunnahkan untuk menahan diri dari memotong kuku dan rambut tumbuh sejak awal Dzulhijjah hingga disembelihnya hewan qurban miliknya. Sebagaimana tuntunan dari Nabi ﷺ melalui sabdanya:

مَن كانَ له ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فإذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّةِ، فلا يَأْخُذَنَّ مِن شَعْرِهِ، ولا مِن أظْفارِهِ شيئًا حتَّى يُضَحِّيَ (رواه مسلم).

Artinya: “Barang siapa baginya sembelihan hewan qurban yang akan dia sembelih, maka apabila telah masuk hilal bulan Dzulhijjah maka janganlah dirinya memotong rambut dan kukunya hingga dia telah selesai menyembelih”. [HR. Muslim]

Memperbanyak tilawah al Quran.

Tilawah al Quran adalah ibadah agung yang menunjukkan kedekatan seorang hamba dengan Robbnya ﷻ. Tidak mengherankan jika pembacanya yang mahir mendapatkan sebaik-baik teman yaitu para malaikat di dunia dan akhirat. Keutamaan ini dinyatakan oleh Nabi ﷺ dalam salah satu haditsnya:

الماهِرُ بالقرآنِ مع السفرَةِ الكرامِ البرَرَةِ ، والذي يقرؤُهُ ويتَعْتَعُ فيهِ وهو عليه شاقٌّ لَهُ أجرانِ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Orang yang pandai membaca Al Quran bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti dan orang yang membaca (al Quran) dan ia terbata-bata di dalamnya serta terasa berat maka baginya dua pahala”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Sementara dalam kesempatan lain Nabi ﷺ menjelaskan bahwa setiap huruf yang dibaca akan mendapatkan sepuluh kali lipat kebaikan yang didapat, seperti dalam haditsnya :

من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ (الـم) حرفٌ ولكنْ (ألفٌ) حرفٌ و(لامٌ) حرفٌ و(ميمٌ) حرفٌ (رواه الترمذي)

Artinya: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif,lam, mim adalah satu huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. [HR. Tirmidzi]

Tilawah al Quran yang dikerjakan pada hari-hari biasa menadaptkan pahala yang begitu luar biasa, lalu bagaimana kiranya jika amalan tersebut dilaksanakan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah?! Masihkah kita enggan tilawah al Quran di rangkaian hari-hari mulia ini?

Berbakti kepada kedua orang tua.

Tahukah kita? Bahwa berbakti kepada kedua orang tua merupakan amalan agung yang mendapatkan keistimewaan di surga bagi orang yang mengamalkannya. Hal itu disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ:

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنْ شِئتَ فأضِعْ ذلك البابَ أو احفَظْه (رواه الترمذي)

Artinya: “Orang tua (yang menyebabkan lahirnya anak) adalah pintu surga yang paling Tengah, maka jika engkau menghendaki untuk menghilangkannya atau engkau menjaganya”. [HR. Tirmidzi]

Para ulama menjelaskan bahwa maksud pintu surga yang paling Tengah adalah sebaik-baik pintu surga. Sementara ungkapan فإنْ شِئتَ فأضِعْ ذلك البابَ أو احفَظْه (= maka jika engkau menghendaki untuk menghilangkannya atau engkau menjaganya) menunjukkan celaan bagi orang yang enggan berbuat baik kepada orang tuanya. Sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada kedua orang tua dengan apa pun kondisinya dan latar belakang masalahnya.

Berbuat ihsan kepada semua makhluq.

Berbuat ihsan adalah tuntutan iman dan islam. Tidaklah seorang hamba dikatakan baik imannya melainkan ketika dirinya berbuat ihsan. Karena ihsan adalah perwujudan iman yang memancarkan cahaya keikhlasan dan spirit ittiba’ (=mengikuti) keteladanan Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana yang didefinisikan dalam hadits Jibril saat bertanya kepada Rasulullah apa yang dimaksud dari ihsan :

قالَ: ما الإحْسَانُ؟ قالَ: أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّه يَرَاكَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “(Jibril) berkata: apakah Ihsan itu? Beliau (Nabi) bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau bisa melihat-Nya, maka jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. [HR. Bukhori dan Muslim]

Syariat Islam mengajarkan kita untuk berlaku ihsan kepada semua makhluq. Hal itu ditegaskan oleh Nabi ﷺ dalam salah satu haditsnya:

إنَّ اللهَ كتَبَ الإحسانَ على كلِّ شيءٍ، فإذا قتَلتُم فأَحْسِنوا القِتْلةَ، وإذا ذبَحتُم فأَحْسِنوا الذَّبْحَ، ولْيُحِدَّ أحَدُكم شَفْرتَه، ولْيُرِحْ ذَبيحتَه (رواه أبو داود)

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berlaku ihsan kepada segala sesuatu, maka jika kalian hendak membunuh maka berlaku ihsan lah dalam membunuh, dan jika kalian hendak menyembelih maka berlaku ihsan lah dalam menyembelih, dan hendaklah ia menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya”. [HR. Abu Dawud]

Menunaikan haji dan umroh.

Haji dan umroh adalah amalan agung yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk mengadakan perjalanan menuju ke Baitullah. Amalan haji merupakan bagian dari jihad fi sabilillah, sebagaimana yang ditegaskan oleh baginda Nabi ﷺ saat ditanya oleh ibunda Aisyah:

أنَّ عائشةَ رضيَ اللهُ عنها سألت رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ : هل على النساءِ جهادٌ ؟ قال : نعم جهادٌ لا قتالَ فيه : الحجُّ والعمرةُ (رواه ابن ماجه)

Artinya: Bahwa ‘Aisyah -semoga Allah meridhoinya- pernah bertanya kepada Rasulullah: apakah bagi wanita ada kewajiban jihad? Beliau bersabda: “ya ada, jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya yaitu haji dan umroh”. [HR. Ibnu Majah]

Bulan Dzulhijjah adalah waktunya pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Oleh sebab itulah bulan Dzulhijjah menjadi Istimewa karena berkumpulnya seluruh induk ibadah di dalamnya, salah satunya adalah haji dan umroh. Di saat inilah Allah melimpahkan ampunan dan pahalanya bagi para hamba-Nya yang mampu menunaikan haji dan umroh, hingga tiada imbalan yang pantas diberikan bagi mereka melainkan surga-Nya, sebagaimana hadits Nabi ﷺ:

العُمرةُ إلى العُمرةِ كفَّارةُ ما بَيْنَهما والحجُّ المبرورُ ليس له جزاءٌ إلَّا الجنَّةُ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Umroh ke umroh selanjutnya adalah penggugur dosa di antara keduany, dan haji yang mabrur tidak ada balasan setimpal kecuali hanya surga”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Menjaga sholat lima waktu secara berjamaah di masjid.

Sholat fardhu lima waktu adalah bagian rukun islam yang menjadi tiang agama. Sudah seharusnya setiap muslim dan Muslimah menjaganya. Akan lebih mulia lagi jika kewajiban tersebut dilaksanakan secara berjamaah di masjid dan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Pahal yang berlipat ganda bagi hamba yang sholat fardhu berjamaah ditegaskan oleh Nabi ﷺ melalui sabdanya:

صَلَاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الفَذِّ بسَبْعٍ وعِشْرِينَ دَرَجَةً. (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Sholat berjamaah melebihi keutamaannya dari pada sholat sendirian dengan 27 derajat”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Melaksanakan sholat idul Adlha bersama kaum muslimin.

Di antara amalan utama yag dikerjakan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah melaksanakan dan menghadiri shola idul Adlha bersama kaum muslimin. Karena amalan ini tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabat, bahkan beliau sangat menganjurkan para wanita Muslimah yang lagi haid untuk keluar menyaksikan dan menghadiri sholat ied. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shohih:

عن أم عطية نسيبة بنت كعب -رضي الله عنها- قالت: أُمِرْنَا أنْ نُخْرِجَ الحُيَّضَ يَومَ العِيدَيْنِ، وذَوَاتِ الخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ، ودَعْوَتَهُمْ ويَعْتَزِلُ الحُيَّضُ عن مُصَلَّاهُنَّ، قالتِ امْرَأَةٌ: يا رَسولَ اللَّهِ إحْدَانَا ليسَ لَهَا جِلْبَابٌ؟ قالَ: لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِن جِلْبَابِهَا (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Dari Umi ‘Athiyah Nusaibah binti Ka’ab -semoga Allah meridhoinya- berkata: “Dahulu kami diperintahkan untuk mengajak keluar para wanita haid dan para wanita dalam pingitan di hari idul fithri dan idul adlha agar mereka menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan doa mereka, dan para wanita haid menjauh dari tempat sholat ied. Seseorang wanita berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab? Beliau bersabda: “Agar temannya memakaikan kepadanya jilbabnya”. [HR. Bukhari]

Memperbanyak dzikir dan doa.

Di dalam rangkaian hari-hari mulia seperti sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Dalam sebuah kesempatan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa dzikir merupakan amalan terbaik yang dicintai oleh Allah ﷻ. Beliau ﷺ bersabda:

 ألا أنبِّئُكُم بخيرِ أعمالِكُم ، وأزكاها عندَ مليكِكُم ، وأرفعِها في درجاتِكُم وخيرٌ لَكُم مِن إنفاقِ الذَّهبِ والورِقِ ، وخيرٌ لَكُم من أن تلقَوا عدوَّكُم فتضرِبوا أعناقَهُم ويضربوا أعناقَكُم ؟ قالوا : بلَى . قالَ : ذِكْرُ اللَّهِ تَعالى قالَ معاذُ بنُ جبلٍ : ما شَيءٌ أنجى مِن عذابِ اللَّهِ من ذِكْرِ اللَّهِ (رواه الترمذي)

Artinya: “Maukah kalian aku beritahukan tentang sebaik-baik amalan kalian, amalan yang paling suci di sisi Raja kalian (Allah), amalan yang paling tinggi derajatnya, amalan yang lebih baik dari pada menginfaqkan emas dan perak dan bahkan lebih baik dari pada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian (perang)? Mereka (para sahabat) berkata: “Tentu saja kami mau”. Beliau bersabda: “Dzikrulloh (mengingat Allah)”. Mu’adz bin Jabal berkata: “Tiada suatu perkara yang lebih bisa menyelamatkan dari siksa api neraka melebihi mengingat Allah (berdzikir)”. [HR. Tirmidzi]

Memperbanyak istighfar dan taubat.

Tidak diragukan lagi bahwa pertaubatan seorang hamba adalah perkara yang membuat Allah bahagia. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shohih:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِن أَحَدِكُمْ كانَ علَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فلاةٍ، فَانْفَلَتَتْ منه وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فأيِسَ منها، فأتَى شَجَرَةً، فَاضْطَجَعَ في ظِلِّهَا، قدْ أَيِسَ مِن رَاحِلَتِهِ، فَبيْنَا هو كَذلكَ إِذَا هو بِهَا، قَائِمَةً عِنْدَهُ، فأخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قالَ مِن شِدَّةِ الفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِن شِدَّةِ الفَرَحِ. (رواه مسلم)

Artinya: “Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya melebihi bahagianya seseorang dari kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di padang yang gersang, kemudia hewan tunggangannya lepas sementara di atasnya ada perbekalan makanannya dan minumannya, lalu ia berputus asa dari mencarinya, kemudian mendatangi pohon lalu beristirahat di bawah naungannya karena ia telah berputus asa dari hewannya. Di saat ia dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangannya berdiri tegak di hadapannya, lalu dengan sigap dia mengambil tali kendalinya kemudian berucap karena luapan kegembiraannya: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Robbmu, dia salah ucap karena luapan kegembiraan”. [HR. Muslim]

Menyembelih hewan qurban

Amalan penting lainnya yang sangat dianjurkan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah menyembelih hewanqurban. Hal ini dinyatakan oleh Nabi ﷺ dalam haditsnya:

ما عمِلَ آدمِيٌّ مِن عمَلٍ يومَ النَّحرِ أحبَّ إلى اللهِ مِن إهراقِ الدَّمِ؛ إنَّها لتَأْتي يومَ القيامةِ بقُرونِها وأشعارِها وأظْلافِها، وإنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِن اللهِ بمكانٍ قبلَ أنْ يقَعَ مِن الأرضِ، فَطِيبوا بها نفسًا. (رواه الترمذي)

Artinya: “Tidak ada yang dikerjakan oleh seorang anak Adam dari suatu amalan pada hari penyembelihan hewan qurban yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah hewan qurban. Sesungguhnya (hewan qurban) itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya (pahala) darah itu telah sampai di sisi Allah sebelumnya jatuhnya tetesan darah ke tanah, maka menjadi baiklah jiwa-jiwa dengannya”. [HR. Tirmidzi]

Menghindari segala macam bentuk kemaksiatan

Menghindari segala macam bentuk kemaksiatan di hari-hari mulia seperti sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi bukti nyata ketaqwaan seorang hamba. Karena perbuatan dosa di hari-hari tersebut juga akan dilipatgandakan siksaannya di sisi Allah ﷻ sebagaimana dilipatgandakannya pahala kebaikan. [al Jami’ li Ahkam al Quran, juz 8, hal 473].

Di saat seorang hamba mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah hakikatnya ikatan iman dalam dirinya akan menguat. Namun sebaliknya jika seorang hamba secara lancang melanggar perkara-perkara yang Allah agungkan dan muliakan maka sejatinya ikatan imannya semakin memudar. Bersikap lancang melanggar perkara yang diharamkan oleh Allah di rangkaian hari-hari mulia menjadi pertanda buruknya kondisi iman seorang hamba.

Namun di saat gejolak syahwat dan bisikan setan mempengaruhi seorang hamba untuk berbuat maksiat dan dirinya berani meninggalkannya karena Allah ﷻ, niscaya Allah ﷻ akan memberikan penghargaan kepada hamba tersebut dengan ditetapkannya satu kebaikan untuknya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi:

 يقولُ اللَّهُ: إذا أرادَ عَبْدِي أنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً، فلا تَكْتُبُوها عليه حتَّى يَعْمَلَها، فإنْ عَمِلَها فاكْتُبُوها بمِثْلِها، وإنْ تَرَكَها مِن أجْلِي فاكْتُبُوها له حَسَنَةً (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Allah berfirman: “Apabila hambaKu ingin berbuat dosa maka janganlah kalian (para malaikat) menulisnya hingga dia melakukannya, jika ia melakukannya maka catatlah satu keburukan semisalnya, dan jika ia meninggalkannya (dosa) karena Diri-Ku maka catatkanlah untuknya satu kebaikan” [HR. Bukhari dan Muslim]

Menuntut ilmu dan memperdalam pemahaman tentang Islam.

Di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dianjurkan sekali bagi setiap muslim dan muslimah untuk menambah dan memperdalam kefahamannya terhadap syariat Islam. Menyusun hari-hari yang mulia ini menjadi momentum terbaik untuk mengubah dan membekali diri dengan ilmu syar’i. Janganlah membiarkan diri terjatuh ke dalam lubang pembusukan. Terlebih lagi bodoh tentang urusan agamanya.

Dalam banyak hadits Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan beberapa keutamaan amalan mencari ilmu. Di antaranya adalah sabdanya:

مَن يُرِدِ اللَّهُ به خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki dalam dirinya kebaikan niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Demikianlah ringkasan beberapa amalan yang seharusnya dijalankan dan dijaga oleh setiap muslim dan muslimah khususnya di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita kemampuan dan istiqomah untuk menjalankan setiap amalan kebaikan yang disyari’atkan dalam Islam. sama kita juga berharap semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita husnul khotimah. Aamiin. dan itu adalah hal yang baik

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button